Fakultas Farmasi dan Sains Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertema “Membangun Generasi Sehat Melalui Perilaku Hidup Bersih dan Sehat serta Pemenuhan Gizi Seimbang” di Posyandu Sariayu VII, Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi. Kegiatan ini menyasar kader posyandu dan ibu-ibu PKK setempat.
Kegiatan tersebut merupakan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, yang diinisiasi dosen Fakultas Farmasi dan Sains UHAMKA. Pelaksanaannya didukung Kelurahan Bantargebang dan Puskesmas Kecamatan Bantargebang, sehingga kolaborasi antara kampus, pemerintah kelurahan, dan fasilitas kesehatan setempat dapat berjalan bersama.
Pembukaan acara dihadiri Lurah Bantargebang Sowi Hidayatullah, S.T., serta Dwiana Setiawati, AMG, dari bagian gizi Puskesmas Bantargebang. Sejumlah kader dan ibu PKK dari wilayah Sariayu VII dan IX turut mengikuti kegiatan hingga selesai.
Materi edukasi disampaikan oleh Dr. apt. Dwitiyanti, M.Farm, dosen Fakultas Farmasi dan Sains UHAMKA, menggunakan presentasi yang disusun agar mudah dipahami peserta. Dalam pemaparan tersebut, peserta diajak memahami capaian penurunan stunting nasional, termasuk data prevalensi stunting balita Indonesia pada 2024 sebesar 19,8 persen—untuk pertama kalinya berada di bawah 20 persen dalam beberapa tahun terakhir—serta target nasional 14,2 persen pada 2029. Dalam paparan itu juga disebutkan Jawa Barat masih menjadi penyumbang jumlah balita stunting terbesar secara nasional.
Selain itu, peserta mendapat penguatan konsep dasar Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran sendiri agar keluarga mampu menolong dirinya di bidang kesehatan. PHBS dijelaskan dapat diterapkan di lima tatanan, yaitu rumah tangga, sekolah, tempat kerja, sarana kesehatan, dan tempat umum, dengan penekanan pada rumah tangga sebagai fokus utama kader posyandu.
Sejumlah praktik PHBS di rumah tangga turut dibahas, mulai dari cuci tangan pakai sabun, penyediaan air bersih, penggunaan jamban sehat, pengelolaan sampah rumah tangga, rumah bebas asap rokok, hingga pemberantasan jentik nyamuk melalui gerakan 3M Plus (menguras, menutup, mendaur ulang, dan perlindungan tambahan).
Pemateri juga menekankan keterkaitan sanitasi dengan status gizi anak. Lingkungan yang tidak bersih dapat memicu infeksi berulang seperti diare dan ISPA, yang kemudian menurunkan nafsu makan dan mengganggu penyerapan gizi sehingga berat badan anak sulit naik.
Dalam sesi ini, kader mendapat penjelasan mengenai cara menilai status gizi balita melalui empat indeks antropometri, yaitu Berat Badan menurut Umur (BB/U), Panjang/Tinggi Badan menurut Umur (PB/U atau TB/U), Berat Badan menurut Panjang/Tinggi Badan (BB/PB atau BB/TB), serta Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U), termasuk ambang batas Z-score sesuai Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 2 Tahun 2020.
Teknik pengukuran antropometri yang benar juga menjadi perhatian, termasuk kesalahan yang kerap terjadi di lapangan seperti pembulatan umur dan berat badan yang tidak tepat, posisi pengukuran panjang atau tinggi badan yang keliru, serta pentingnya kalibrasi alat ukur sebelum digunakan.
Peserta kemudian diajak mengenali empat masalah gizi yang perlu dipahami kader, yakni stunting, wasting, underweight, dan overweight, beserta ciri dan indikatornya. Materi turut memuat tanda bahaya pada balita yang perlu segera dirujuk, seperti berat badan tidak naik dua kali penimbangan berturut-turut, lingkar lengan atas (LiLA) di bawah 11,5 cm, edema, hingga diare berkepanjangan, berikut alur pelaporan dari kader kepada bidan atau petugas gizi puskesmas.
Peran kader pada hari posyandu juga dibahas, mulai dari pendaftaran, penimbangan dan pengukuran, pencatatan, pelayanan kesehatan, sampai penyuluhan. Pemateri menyoroti pentingnya kegiatan sweeping untuk balita yang tidak hadir ke posyandu.
Di sisi komunikasi, peserta diingatkan agar menyampaikan hasil pemantauan berbasis data tanpa melabeli, misalnya menghindari ungkapan “anak Ibu stunting” yang dapat membuat orang tua merasa malu atau enggan kembali. Pendekatan yang dianjurkan adalah memberikan satu saran konkret yang dapat langsung diterapkan di rumah.
Selama diskusi, sejumlah kader dan ibu PKK aktif mengajukan pertanyaan terkait penerapan PHBS dan pemenuhan gizi seimbang di lingkungan rumah tangga. Antusiasme tersebut mencerminkan kebutuhan informasi kesehatan yang aplikatif untuk mendukung tugas kader di posyandu.
Melalui kegiatan ini, UHAMKA berharap kader posyandu dan ibu PKK di wilayah Sariayu VII dan IX Bantargebang semakin memahami hubungan antara PHBS dan status gizi balita, sehingga dapat berperan lebih optimal dalam upaya pemenuhan gizi seimbang. Sinergi antara akademisi, pemerintah kelurahan, dan puskesmas diharapkan dapat berlanjut untuk mendukung terwujudnya generasi yang lebih sehat.