AMBON – Berawal dari dapur rumah, Salsa Rini perlahan mengembangkan usaha kuliner bernama Tuna Bowl. Usaha yang telah berjalan sekitar satu tahun ini menawarkan olahan tuna serta Sate Garut dengan konsep menu praktis dan terjangkau, menyasar kebutuhan konsumen yang menginginkan makanan mudah dinikmati tanpa mengabaikan cita rasa.
Salsa menuturkan, gagasan membangun Tuna Bowl muncul dari keinginannya menghadirkan olahan makanan bercita rasa khas yang tetap dapat diterima anak muda. Ia melihat kecenderungan masyarakat menyukai makanan praktis dan instan, namun menurutnya rasa tetap menjadi pertimbangan utama.
“Kalau sudah mencoba dan rasanya nyaman di mulut, biasanya orang akan kembali lagi. Itu yang membuat saya terus semangat,” ujar Salsa.
Selain menu Tuna Bowl, Salsa juga menghadirkan Sate Garut sebagai pilihan lain. Pelanggan dapat memilih salah satu menu atau menggabungkannya dalam satu paket campuran agar bisa mencoba keduanya sekaligus. Menurut Salsa, opsi tersebut juga membantu pelanggan yang masih ragu menentukan pilihan, sekaligus memberi kesempatan untuk menemukan menu yang paling sesuai dengan selera.
Dalam operasional usaha, Salsa tidak bekerja sendiri. Ia menyebut ibunya masih berperan penting dalam proses produksi, terutama untuk menjaga konsistensi rasa. Hingga kini, sang ibu masih menjadi head chef, sementara Salsa terus belajar memperdalam proses pengolahan, termasuk memahami detail takaran bahan dan pengembangan resep.
“Untuk sekarang, head chef-nya masih Mama. Saya juga mau belajar. Saya sudah memahami bagaimana cara pengolahannya, tetapi untuk takaran-takaran yang lebih detail memang masih dalam proses belajar,” katanya.
Salsa menilai keterlibatan ibunya penting karena perbedaan tangan dapat memengaruhi hasil masakan. Ia menyebut, dengan ibunya yang memasak, rasa produk lebih konsisten dan sesuai harapan pelanggan yang kembali membeli.
“Beda tangan, beda rasa. Jadi kalau Mama yang memasak, rasanya lebih konsisten,” ujarnya.
Respons pelanggan, kata Salsa, mulai terlihat dari pengalaman berjualan di berbagai kegiatan. Ia mengaku telah mengikuti bazar setidaknya enam kali, sementara kegiatan pasar atau market yang diikuti sudah memasuki sekitar ketujuh atau kedelapan kalinya. Dari rangkaian kegiatan itu, ia melihat pelanggan yang kembali membeli, bahkan mulai memiliki menu favorit.
“Mereka sudah tahu rasanya. Mereka selalu bilang rasanya sama, tidak berubah,” tutur Salsa.
Untuk pelengkap, Tuna Bowl menyediakan beberapa pilihan sayuran seperti capcay dan oseng buncis. Pelanggan juga dapat menambahkan asinan untuk memberikan rasa yang lebih segar. Skema pemesanan ini memungkinkan pelanggan menyesuaikan isi pesanan sesuai selera dan kebutuhan.
Salsa menilai perjalanan Tuna Bowl masih berada pada tahap awal. Dengan usia usaha sekitar satu tahun, ia terus belajar memahami proses bisnis sekaligus meningkatkan kemampuan dalam mengolah produk. Ke depan, ia berharap dapat semakin mandiri dalam menentukan resep dan menjaga kualitas, sembari memanfaatkan pengalaman berjualan di bazar dan market sebagai ruang berinteraksi langsung dengan pelanggan.
Dukungan sang ibu, menurut Salsa, menjadi bagian penting dari perjalanan tersebut. Dari dapur keluarga, Tuna Bowl mulai dibangun dan perlahan diperkenalkan kepada masyarakat sebagai usaha kuliner yang terus berkembang.