Mengajak anak ke dokter gigi kerap menjadi tantangan bagi orang tua, terutama ketika anak menolak, menangis, atau merengek karena takut. Padahal, pemeriksaan dan perawatan gigi penting dilakukan sejak dini karena kesehatan gigi dapat berpengaruh pada kesehatan secara keseluruhan, termasuk hingga anak beranjak dewasa.
Alih-alih memarahi anak saat ia menolak, orang tua disarankan memahami terlebih dahulu penyebab ketakutannya. Ada beberapa alasan yang umum terjadi. Pertama, trauma—pengalaman pertama ke dokter gigi yang menimbulkan rasa sakit dapat membuat anak takut pada pemeriksaan berikutnya. Kedua, ucapan orang tua yang tanpa disadari membentuk citra negatif, misalnya kalimat yang menggambarkan dokter gigi sebagai sosok yang “galak”. Ketiga, bayangan tentang alat-alat kedokteran gigi yang terlihat menakutkan dari foto atau video. Keempat, kondisi gigi yang sudah terlanjur buruk sehingga anak merasa akan menghadapi perawatan yang menyakitkan.
Berbeda dengan orang dewasa, anak belum tentu memahami bahwa rasa tidak nyaman saat perawatan justru dapat mencegah masalah yang lebih berat di kemudian hari. Karena itu, peran orang tua menjadi penting untuk membangun pengalaman yang lebih positif. Berikut tujuh cara yang dapat dicoba agar anak lebih tenang saat berkunjung ke dokter gigi.
1. Ajak anak ke dokter gigi sedini mungkin
Waktu kunjungan pertama berpengaruh terhadap rasa takut anak. Idealnya, anak dibawa ke dokter gigi ketika gigi pertamanya muncul atau setidaknya enam bulan setelahnya. Jika kunjungan pertama dilakukan saat anak sudah lebih besar, misalnya sekitar tujuh tahun atau lebih, anak mungkin sudah mendengar cerita-cerita menakutkan tentang dokter gigi. Studi yang diterbitkan dalam jurnal Children (2021) menunjukkan bahwa anak yang pertama kali memeriksakan gigi sebelum usia dua tahun cenderung memiliki ketakutan lebih sedikit. Ketakutan juga dapat berkurang bila anak menjalani pemeriksaan rutin setiap enam bulan.
2. Pertimbangkan dokter gigi khusus anak
Membawa anak ke dokter gigi khusus anak bisa menjadi pilihan. Perawatan yang diberikan pada dasarnya sama, namun klinik khusus anak umumnya ditata agar lebih ramah dan menenangkan. Anak juga berpeluang bertemu teman sebayanya, yang dapat membantu mengurangi rasa takut.
3. Berikan edukasi kesehatan gigi di rumah
Orang tua tidak menggantikan peran dokter gigi, namun menjadi pihak pertama yang memperkenalkan kebiasaan menjaga kesehatan gigi. Edukasi tidak harus berupa teori panjang. Contoh sehari-hari dapat lebih efektif, seperti mendampingi anak saat gosok gigi, membatasi konsumsi makanan manis, serta membiasakan kunjungan rutin ke dokter gigi.
4. Hindari memberikan informasi yang salah
Untuk membujuk anak, sebagian orang tua mungkin tergoda mengatakan perawatan dokter gigi tidak sakit. Kenyataannya, beberapa tindakan dapat menimbulkan rasa tidak nyaman setelah efek bius hilang. Informasi yang tidak akurat berisiko membuat anak semakin takut dan kehilangan kepercayaan. Sebaiknya orang tua memberi penjelasan secukupnya dan membiarkan dokter gigi menjelaskan lebih lengkap.
5. Jangan menakut-nakuti anak
Kebiasaan seperti sering makan manis atau menunda sikat gigi memang dapat membuat anak lebih sering membutuhkan perawatan. Namun, hal itu sebaiknya tidak dijadikan ancaman, misalnya dengan kalimat yang menggambarkan anak akan “disuntik” atau “dimarahi” dokter gigi. Orang tua dapat menekankan bahwa kunjungan ke dokter gigi adalah bagian dari cara merawat gigi.
6. Beri pujian atas keberanian anak
Ketika anak berhasil menjalani kunjungan ke dokter gigi, pujian dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri dan membuat pengalaman berikutnya terasa lebih mudah. Meski demikian, pemberian hadiah berlebihan sebaiknya dihindari agar anak tidak terbiasa selalu mengharapkannya.
7. Ajarkan melalui permainan
Permainan dokter-dokteran dapat menjadi cara sederhana untuk memperkenalkan profesi dokter, termasuk dokter gigi, sekaligus membantu anak memahami bahwa pemeriksaan gigi tidak selalu menakutkan. Orang tua dapat berperan sebagai dokter gigi dan menjelaskan bahwa perawatan bertujuan mencegah atau mengurangi rasa sakit. Pendekatan ini juga dapat diterapkan saat anak merasa takut pada pengalaman medis lain, seperti sunat atau imunisasi.
Pada akhirnya, membantu anak mengatasi ketakutan ke dokter gigi membutuhkan kesabaran. Anak memerlukan waktu untuk memahami manfaat pemeriksaan gigi. Dengan pendampingan yang konsisten, pengalaman ke dokter gigi dapat berubah dari sesuatu yang menakutkan menjadi rutinitas yang lebih mudah dijalani.