BERITA TERKINI
Mengenal “Jurnal Rasa Sakit”, Latihan Menulis untuk Belajar dari Pengalaman Sulit

Mengenal “Jurnal Rasa Sakit”, Latihan Menulis untuk Belajar dari Pengalaman Sulit

Selama ini, jurnal rasa syukur kerap dikenal sebagai cara sederhana untuk menumbuhkan terima kasih dan meningkatkan kebahagiaan. Namun, praktik menulis harian juga bisa dilakukan dengan pendekatan berbeda: mencatat pengalaman menyakitkan dan pelajaran yang lahir darinya.

Ilmuwan sosial Arthur C. Brooks, yang mengajar tentang kebahagiaan di Universitas Harvard, menyampaikan bahwa salah satu latihan yang ia berikan kepada para muridnya adalah memahami makna dari rasa sakit yang mereka alami. Dalam The Atlantic Festival pada September lalu, Brooks mengatakan ia meminta murid-muridnya membuat “jurnal rasa sakit”.

Menurut Brooks, jurnal ini digunakan untuk melacak pelajaran yang didapat dari pengalaman sulit yang pada akhirnya dapat melahirkan hasil positif. Pendekatan tersebut mendorong seseorang melihat kembali tantangan hidup, bukan hanya sebagai peristiwa yang menyakitkan, tetapi juga sebagai sumber pembelajaran.

Berikut langkah-langkah membuat jurnal rasa sakit sebagaimana dijelaskan Brooks.

Pertama, sisihkan tiga baris untuk setiap entri jurnal. Pada baris pertama, tuliskan secara singkat pengalaman menyakitkan yang dialami dan perasaan yang muncul. Contohnya: “Saya kehilangan pekerjaan, dan saya khawatir dengan masa depan saya.”

Kedua, biarkan dua baris di bawahnya kosong. Setelah satu bulan, kembali ke halaman yang sama dan isi baris kedua dengan menuliskan apa yang dipelajari sebagai hasil dari pengalaman tersebut.

Ketiga, enam bulan kemudian, tuliskan pada baris ketiga hal baik yang terjadi dalam hidup sebagai dampak dari pengalaman menyakitkan itu.

Melalui cara ini, jurnal rasa sakit menjadi catatan berjangka yang membantu seseorang meninjau perjalanan emosionalnya dari waktu ke waktu—dari peristiwa sulit, pelajaran yang muncul, hingga kemungkinan perubahan positif yang mengikutinya.