Dinamika bisnis kuliner melahirkan tren baru bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), salah satunya melalui konsep dimsum keliling. Strategi ini dinilai menjadi solusi bagi masyarakat yang ingin merintis usaha tanpa terbebani biaya sewa bangunan atau kontrak toko permanen yang kerap menjadi hambatan bagi pemula.
Praktisi UMKM, Aridawarni Sitohang, menilai dimsum memiliki daya tarik luas karena digemari berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Selain praktis dan relatif terjangkau, model penjualan berkeliling disebut mampu mempercepat perputaran modal karena penjual dapat mendatangi langsung calon pelanggan.
“Konsep keliling ini memangkas banyak biaya operasional tetap. Pelaku usaha tidak perlu menunggu pelanggan datang ke toko, melainkan mereka yang menjemput bola ke lokasi-lokasi yang sedang ramai, sehingga potensi penjualan harian bisa lebih maksimal,” ujar Arida melalui sambungan telepon dalam Program Santai Siang, Senin (30/3/2026).
Dari sisi teknis, modal awal untuk memulai usaha ini disebut relatif minim dengan peralatan yang fungsional. Perangkat sederhana seperti kukusan portabel, kompor mini, serta wadah penyimpanan yang higienis dinilai sudah memadai untuk operasional harian, sehingga cocok bagi warga yang ingin memulai usaha dari skala rumahan.
Arida juga menekankan pentingnya tampilan sarana jualan, seperti desain gerobak atau booth portabel yang menarik dan bersih, untuk memikat perhatian calon pembeli. Di sisi lain, aspek kebersihan dan higienitas tetap menjadi prioritas agar konsumen merasa aman saat membeli makanan yang dijajakan secara berpindah-pindah.
Untuk mendukung penjualan, pemasaran digital melalui media sosial dinilai efektif, terutama untuk menginformasikan lokasi berjualan secara real-time kepada pelanggan. Komunikasi aktif melalui platform pesan singkat juga dapat membantu membangun komunitas pelanggan loyal meski lokasi usaha tidak menetap.

