BERITA TERKINI
Tips Menyimpan Jamu Tradisional agar Tetap Segar dan Tidak Cepat Basi

Tips Menyimpan Jamu Tradisional agar Tetap Segar dan Tidak Cepat Basi

Jamu tradisional dikenal sebagai minuman herbal berbahan alami yang umumnya dibuat tanpa tambahan pengawet. Karena itu, cara penyimpanan menjadi kunci agar rasa, aroma, dan kualitas rempah di dalamnya tetap terjaga. Seiring makin banyak orang membuat jamu sendiri di rumah—mulai dari kunyit asam, jahe, hingga temulawak—kesalahan penyimpanan kerap membuat jamu cepat berubah rasa atau basi.

Sunarsih (57), penjual jamu tradisional di Kota Yogyakarta yang berjualan sejak 2012 dan akrab disapa Mbak Sih, membagikan sejumlah langkah yang ia anggap efektif untuk menjaga jamu tetap segar lebih lama. Berikut rangkumannya.

1. Dinginkan dulu, lalu simpan di kulkas

Mbak Sih menyarankan jamu tidak langsung dimasukkan ke lemari pendingin saat masih panas. Jamu sebaiknya didiamkan terlebih dahulu hingga suhunya turun. “Kalau misalnya jamu dibeli dalam keadaan hangat, sebaiknya ditunggu sampai dingin dulu semua baru disimpan di kulkas kalau memang tidak langsung diminum habis,” ujarnya.

Menyimpan jamu saat masih panas dapat memicu uap air berlebih di dalam wadah yang berpotensi mempercepat perubahan rasa dan aroma. Suhu dingin membantu memperlambat pertumbuhan bakteri dan menjaga kualitas rempah. Jamu yang disimpan pada suhu stabil biasanya masih nyaman diminum hingga dua atau tiga hari, tergantung bahan yang digunakan. Namun, ia menekankan pentingnya memeriksa aroma dan warna sebelum dikonsumsi.

2. Gunakan wadah yang bersih dan tertutup rapat

Kebersihan wadah menjadi faktor penting karena jamu tradisional umumnya tidak memakai pengawet. Botol atau wadah perlu dicuci bersih dan dikeringkan agar tidak ada sisa air atau kotoran yang bisa memicu pertumbuhan bakteri.

“Tantangan paling besar itu jamu cepat basi kalau penyimpanannya kurang tepat. Karena jamu tradisional umumnya tidak pakai pengawet, jadi kebersihan dan suhu penyimpanan sangat berpengaruh. Kadang orang sudah bikin jamu enak, tapi wadahnya kurang bersih atau dibiarkan terlalu lama di suhu ruang,” kata Mbak Sih.

Selain bersih, wadah sebaiknya memiliki penutup rapat untuk mengurangi kontak dengan udara luar. Paparan udara berlebih dapat mengubah aroma dan mempercepat fermentasi alami. Mbak Sih juga menilai wadah kaca kerap lebih disukai karena tidak mudah menyerap aroma dan dapat membantu menjaga rasa jamu tetap alami dibanding beberapa jenis wadah plastik.

3. Jangan biarkan terlalu lama di suhu ruangan

Membiarkan jamu terlalu lama di meja dapur dapat mempercepat kerusakan, terlebih saat cuaca panas. Jamu yang dibiarkan terbuka lebih berisiko mengalami perubahan rasa dan aroma, termasuk munculnya rasa asam berlebih akibat fermentasi alami.

Jika tidak langsung diminum habis, jamu disarankan segera dipindahkan ke wadah tertutup dan disimpan di tempat dingin. “Pokoknya jamu harus langsung disimpan di kulkas kalau memang tidak langsung diminum habis. Jangan menunggu terlalu lama karena jamu lebih cepat berubah rasa kalau dibiarkan terbuka,” ucap Mbak Sih.

4. Panaskan secukupnya saat akan diminum

Untuk jamu yang lebih nikmat diminum hangat, seperti jamu jahe atau temulawak, Mbak Sih mengingatkan agar pemanasan ulang tidak dilakukan berulang kali. Memanaskan terlalu sering dapat mengubah rasa dan aroma rempah, serta berpotensi menurunkan kualitas jamu.

Ia menyarankan memanaskan sesuai porsi yang akan diminum saja. “Biasanya cukup dipanaskan sekali secukupnya saja untuk diminum hari itu. Kalau terlalu sering dipanaskan, rasa dan aroma rempah bisa berubah, bahkan kualitas jamunya jadi menurun,” ujarnya.

5. Buat dalam jumlah secukupnya

Membuat jamu dalam jumlah terlalu banyak berisiko membuat minuman tidak habis dan akhirnya terbuang. Meski penyimpanan dilakukan dengan benar, jamu tradisional tetap memiliki daya tahan terbatas karena berbahan alami tanpa pengawet. Karena itu, Mbak Sih menyarankan membuat jamu sesuai kebutuhan harian atau konsumsi keluarga.

Selain lebih praktis, jamu yang baru dibuat umumnya memiliki aroma rempah lebih kuat dan rasa lebih nikmat dibanding jamu yang sudah disimpan terlalu lama. Dengan membuat secukupnya, manfaat bahan herbal juga dapat dirasakan lebih optimal.

Pertanyaan umum seputar penyimpanan dan konsumsi jamu

Sejumlah pertanyaan yang kerap muncul antara lain: waktu terbaik minum jamu yang sering dianggap pagi hari, keamanan konsumsi harian selama dalam jumlah wajar dan bahan bersih, serta alasan jamu cepat basi karena proses fermentasi alami akibat tanpa pengawet. Beberapa jenis jamu seperti kunyit, jahe, dan temulawak juga dipercaya dapat membantu metabolisme. Jamu pun dinilai cocok dikonsumsi berbagai kalangan, termasuk anak muda yang mulai menjadikannya bagian dari gaya hidup sehat alami.