BERITA TERKINI
Tips Mengatasi Anak Bosan di Rumah Selama Pandemi: Aktivitas, Permainan, hingga Cara Orangtua Menjaga Emosi

Tips Mengatasi Anak Bosan di Rumah Selama Pandemi: Aktivitas, Permainan, hingga Cara Orangtua Menjaga Emosi

Situasi pandemi corona membuat banyak keluarga harus menjalani social distancing atau jaga jarak, termasuk anak-anak. Sekolah memindahkan proses belajar mengajar ke rumah masing-masing hingga batas waktu yang belum ditentukan. Setelah lebih dari satu bulan, sebagian orangtua mulai mengeluhkan anak yang terlihat bosan bermain dan belajar di rumah.

Rasa bosan pada anak dalam kondisi seperti ini dinilai wajar. Sir Ken Robinson dalam buku You, Your Child, and School menyebut kebosanan dapat muncul ketika lingkungan terasa monoton atau ketika tidak ada hal lain yang bisa dilakukan untuk mengalihkan perhatian. Kondisi serupa dapat terjadi bila anak terus-menerus menjalani kegiatan yang sama tanpa variasi.

Orangtua dapat membatasi kegiatan tertentu yang dinilai merugikan, seperti penggunaan gawai. Namun, larangan yang terlalu banyak juga berisiko membuat anak tidak memiliki pilihan aktivitas lain. Karena itu, anak perlu diarahkan untuk mencoba kegiatan baru selama karantina di rumah sebagai cara mengurangi kebosanan.

Kebosanan juga bisa berdampak pada kemampuan anak untuk berkonsentrasi, terutama jika anak dipaksa terus melakukan aktivitas yang tidak lagi menarik baginya. Contohnya, ketika bosan dengan pelajaran, anak biasanya mencari pengalihan seperti berbicara dengan teman atau memainkan pensil. Di rumah, kesempatan untuk bersosialisasi tidak tersedia seperti di sekolah, sehingga rasa bosan bisa lebih terasa.

Jika berlangsung lama—misalnya berbulan-bulan atau bertahun-tahun—kebosanan yang terus-menerus dapat memengaruhi emosi anak, seperti munculnya kecemasan atau perasaan tertekan. Karena itu, orangtua perlu mencari cara yang tepat agar anak tetap memiliki kegiatan yang bermakna selama di rumah.

Untuk mengatasi kebosanan, orangtua dapat menawarkan aktivitas di rumah yang tidak hanya bergantung pada gawai. Penggunaan gadget terlalu lama disebut dapat menimbulkan dampak, salah satunya pada emosi. Sejumlah kegiatan yang bisa dicoba antara lain memasak bersama anak, membuat prakarya dari barang bekas, mewarnai atau menggambar, membantu pekerjaan rumah, bermain peran atau bercerita, menggunting dan menempel, serta berolahraga seperti yoga dan senam.

Jika anak cenderung rewel selama masa pandemi, orangtua dapat melibatkan anak dalam kegiatan sehari-hari. Misalnya, mengajak anak merapikan baju sendiri, memasukkan pakaian ke mesin cuci, menjemur pakaian, atau menata meja. Kegiatan semacam ini dinilai dapat melatih rasa tanggung jawab sesuai usia anak sekaligus memberi rutinitas yang menyenangkan.

Permainan bersama di rumah juga bisa menjadi alternatif. Orangtua dapat memperkenalkan permainan tradisional seperti congklak, ular tangga, atau karet, yang sekaligus dapat mengenalkan tradisi budaya Indonesia. Permainan keluarga lain seperti kartu atau ludo juga bisa menjadi sarana mempererat kedekatan orangtua dan anak.

Selain itu, orangtua dapat membuat permainan sederhana yang disesuaikan dengan usia anak, seperti tebak gambar atau tebak gerakan, melempar bola ke dalam keranjang, membuat panggung boneka, atau mencari boneka yang disembunyikan di rumah.

Di sisi lain, masa pandemi tidak hanya membuat anak bosan, tetapi juga orangtua. Kondisi ini dapat memicu emosi orangtua saat menghadapi perubahan perilaku anak. Beberapa langkah yang dapat dilakukan agar orangtua lebih mampu mengendalikan diri antara lain membuat jadwal harian, mengurangi ekspektasi (misalnya rumah harus selalu bersih setiap hari atau menu makanan harus selalu ideal), membagi tugas dengan pasangan dan anak, serta menyisihkan waktu untuk me time.

Orangtua juga disarankan berolahraga rutin, misalnya senam atau yoga di pagi hari melalui internet. Ketika mulai kesal, orangtua dapat mengambil waktu sendiri, melakukan relaksasi, minum air putih, dan menenangkan diri. Setelah emosi lebih stabil, barulah berbicara dengan anak.

Terkait kebutuhan konsultasi profesional, anak yang memberontak karena bosan dan baru berlangsung beberapa hari umumnya tidak perlu langsung dibawa ke psikolog. Orangtua dapat mencoba berbagai saran aktivitas dan menjaga ketenangan dalam mendampingi anak. Namun, bila kondisi sudah mengganggu aktivitas sehari-hari dan sosialnya—misalnya anak menolak mengerjakan semua tugas atau tidak mau berbicara dengan siapa pun selama dua minggu—orangtua disarankan berkonsultasi ke psikolog untuk pemeriksaan lebih lanjut.