Banjir yang kerap melanda sejumlah wilayah di Indonesia, terutama di kota-kota besar, menuntut pengemudi mobil untuk lebih waspada saat melintasi jalan yang tergenang air. Berkendara dalam kondisi banjir bukan hanya berisiko merusak kendaraan, tetapi juga dapat membahayakan keselamatan pengemudi maupun pengguna jalan lainnya.
Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony, mengingatkan pengemudi agar tidak menerobos genangan tanpa pertimbangan. Salah satu langkah yang disarankan adalah mengamati kendaraan yang lebih dulu melintas di depan.
“Ikuti dan amati kendaraan yang ada di depan dengan cara jaga jarak. Lihat apakah kendaraan berguncang. Segera berhenti untuk bersikap,” kata Sony.
Dari sisi keamanan kendaraan, ia menekankan adanya batasan ketinggian air yang perlu diperhatikan agar mobil tidak mengalami kerusakan. Selain itu, pengemudi disarankan melaju dengan kecepatan rendah dan tetap sadar terhadap lingkungan sekitar.
“Pengemudi sebaiknya melaju pelan dengan gigi terendah agar tidak menimbulkan efek ombak yang bisa mengganggu kendaraan lain atau pejalan kaki, sekaligus mencegah air masuk ke saluran air intake mesin,” ujar Sony.
Menurutnya, ombak yang timbul akibat mobil melaju terlalu cepat di genangan dapat membuat sepeda motor oleng, memicu mesin motor kemasukan air, hingga menyebabkan pejalan kaki tersiram air kotor. Karena itu, berkendara saat banjir tidak hanya menyangkut teknik mengemudi, tetapi juga sikap dan empati di jalan.
Sony menambahkan, menjaga kecepatan rendah dengan putaran mesin stabil lebih relevan diterapkan pada mobil bertransmisi manual. Ia juga menekankan bahwa kondisi banjir tidak semestinya menjadi alasan untuk mengabaikan keselamatan dan kenyamanan pengguna jalan lain. Dalam situasi darurat, pengemudi justru diuji untuk tetap sabar, tidak egois, dan mampu mengendalikan diri saat berada di balik kemudi.

