Mega Selvia menutup babak kariernya di dunia perbankan setelah delapan tahun bekerja, lalu memilih merintis usaha kuliner di Kota Kediri. Keputusan itu diambil pada 2019, setelah ia meniti karier sejak 2011 di dua bank milik negara.
Perempuan berusia 34 tahun yang tinggal di Kelurahan Bandarkidul, Kecamatan Mojoroto, itu mengatakan ketertarikannya pada bisnis sudah tumbuh sejak kecil. Ia terbiasa melihat orang tuanya berwirausaha dengan berdagang palawija, khususnya kedelai. Pengalaman tersebut turut membentuk kebiasaannya bekerja keras sejak remaja.
Saat para pekerja yang membantu orang tuanya libur menjelang Lebaran, Mega turun langsung mengurus pesanan. Ia mengangkut sendiri kedelai untuk memenuhi permintaan konsumen. Menurutnya, dalam bisnis, permintaan tetap harus dilayani meski tenaga terbatas.
Minat pada dunia usaha kemudian ia bawa ke bangku kuliah. Mega menempuh pendidikan di perguruan tinggi negeri di Malang dan memilih jurusan ekonomi untuk memperdalam ketertarikannya pada bisnis. Setelah lulus, ia diterima bekerja di perbankan—pekerjaan yang banyak diidamkan.
Meski menjalani pekerjaan sebagai banker, Mega akhirnya memutuskan berhenti setelah memiliki anak. Ia ingin memiliki waktu untuk mengantar anak sekolah sebagaimana orang tua lainnya. Bagi Mega, keputusan keluar dari perbankan bukan persoalan besar karena sejak dini ia telah dibentuk dengan nilai-nilai wirausaha.
Bersama suaminya, Akhmad Saifudin (36), Mega kemudian mendirikan angkringan. Usaha itu mulai berjalan pada 2020, bertepatan dengan masa pandemi Covid-19. Ia mengaku tetap yakin bisnis kuliner menjadi pilihan yang tepat di Kediri.
Dalam perjalanannya, usaha tersebut beberapa kali terdampak kebijakan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Namun Mega berupaya bertahan. Ia memanfaatkan jejaring pertemanan dan komunitas untuk menjaga tempat usahanya tetap ramai. Angkringan itu pun ia kembangkan menjadi mini kafe yang berlokasi di Lingkungan Ngadisimo, Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Kota Kediri.
Strategi harga menjadi salah satu andalannya. Mega menetapkan banderol yang ia sebut standar dan cenderung lebih murah dibanding kota lain, menyesuaikan karakter kuliner Kediri yang dikenal terjangkau. Dengan pendekatan tersebut, ia menyebut pengunjung tetap berdatangan.
Seiring meningkatnya optimisme, Mega mengubah konsep usahanya menjadi tempat berkumpul anak muda. Ia menyiapkan ruang khusus untuk mereka dan tetap mempertahankan harga murah sebagai strategi menarik minat pelanggan.
Dengan lahan yang luas, Mega melihat peluang untuk mengembangkan bisnisnya lebih jauh. Ia juga berencana menyiapkan area angkringan di ruang terbuka dengan konsep yang lebih modern, meski saat ini masih memusatkan perhatian pada pengelolaan kafe.

