Malang — Kebugaran siswa tidak hanya ditentukan oleh aktivitas belajar di sekolah, tetapi juga dipengaruhi kebiasaan makan dan seberapa sering mereka bergerak. Pola konsumsi harian serta aktivitas fisik dinilai turut menentukan kondisi kesehatan dan kesiapan siswa mengikuti kegiatan belajar.
Hal tersebut menjadi perhatian Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Program Studi Gizi, Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan (FIKK) Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Melalui kegiatan bertajuk “Edukasi Gizi Seimbang dan Aktivitas Fisik untuk Meningkatkan Kebugaran dan Kesehatan Siswa”, tim yang beranggotakan tujuh orang mengajak siswa SMP Baitul Manshurin Malang untuk lebih peduli terhadap asupan makanan dan membiasakan diri aktif bergerak.
Dalam kegiatan itu, siswa tidak hanya dikenalkan pada konsep gizi seimbang, tetapi juga diajak memahami cara memilih makanan yang lebih sehat serta pentingnya aktivitas fisik dalam keseharian. Materi disampaikan secara interaktif dengan contoh yang dekat dengan kehidupan siswa. Untuk memperkuat pemahaman, peserta juga menerima booklet berisi informasi gizi seimbang dan contoh aktivitas fisik sederhana yang dapat dilakukan di sekolah maupun di rumah.
Ketua Tim PKM, Anindya Mar’atus Sholikhah, menyoroti tantangan penerapan pola hidup sehat pada anak usia sekolah, terutama di tengah banyaknya pilihan jajanan dan penggunaan gawai yang semakin lekat dalam aktivitas harian. “Anak sekarang banyak menghabiskan waktu di depan layar dan kurang melakukan aktivitas fisik. Kondisi ini tentu menjadi perhatian kami,” ujarnya.
Tim PKM mendorong siswa untuk meninjau kembali kebiasaan sehari-hari, mulai dari memilih makanan yang lebih sehat hingga mengurangi waktu yang terlalu lama di depan layar. Aktivitas sedenter atau kebiasaan minim gerak juga menjadi salah satu bahasan, mengingat waktu yang dihabiskan untuk duduk dan bermain gawai dapat mengurangi kesempatan tubuh untuk bergerak.
Pemateri kegiatan, Yuni Nurwati, menekankan bahwa aktivitas fisik tidak harus terbatas pada pelajaran olahraga. Menurutnya, berjalan kaki, bermain bersama teman, melakukan peregangan, dan aktivitas sederhana lainnya dapat menjadi bagian dari kebiasaan hidup aktif. “Berjalan kaki, bermain bersama teman, melakukan peregangan, maupun melakukan aktivitas fisik sederhana lainnya juga dapat menjadi bagian dari kebiasaan hidup aktif,” tuturnya.
Kegiatan ini juga disebut sebagai bagian dari dukungan Unesa terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Selain itu, upaya membangun kebiasaan sehat sejak usia sekolah dinilai berkaitan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, karena kondisi fisik yang sehat dapat membantu siswa mengikuti proses belajar dengan lebih baik.
Di sela kegiatan, Cleonara Yanuar Dini menyampaikan bahwa kebiasaan hidup sehat dapat dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. “Melalui kegiatan ini, kami ingin menanamkan pesan bahwa hidup sehat bukan sesuatu yang sulit atau harus menunggu dewasa. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten justru dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan dalam jangka panjang,” ujarnya.
Tim PKM menilai pesan hidup sehat perlu didukung lingkungan sekitar agar kebiasaan baru lebih mudah terbentuk. Karena itu, peran sekolah dan guru dipandang penting dalam mendukung pembiasaan gaya hidup sehat. Pada akhirnya, kegiatan ini diharapkan tidak hanya menambah pengetahuan siswa, tetapi juga mendorong mereka membuat pilihan yang lebih baik dalam keseharian.