BERITA TERKINI
Tiga Cara Bijak Menyampaikan Kekecewaan kepada Orangtua Tanpa Memicu Amarah

Tiga Cara Bijak Menyampaikan Kekecewaan kepada Orangtua Tanpa Memicu Amarah

Mengungkapkan rasa kecewa kepada orangtua kerap menjadi situasi yang tidak mudah. Di satu sisi, anak ingin perasaannya dipahami; di sisi lain, percakapan yang berlangsung saat emosi memuncak justru berisiko berubah menjadi pertengkaran. Sejumlah langkah komunikasi dapat membantu agar penyampaian kekecewaan tetap jelas, tenang, dan menjaga hubungan.

1. Memilih waktu yang tepat untuk berbicara

Menyampaikan kekecewaan saat suasana hati sedang panas dapat memperburuk keadaan. Karena itu, waktu dan suasana menjadi faktor penting. Percakapan lebih berpeluang berjalan baik ketika kedua pihak berada dalam kondisi tenang dan santai, sehingga orangtua lebih mungkin mendengarkan dan memahami.

Terapis di Chicago, Lynn Zakeri, LCSW, menekankan pentingnya menemukan waktu yang tepat dan menciptakan suasana yang tenang agar konfrontasi bisa lebih positif. Dengan memilih momen yang kondusif, anak dapat menyampaikan perasaan tanpa memicu konflik yang tidak perlu serta membuka peluang untuk saling memahami dan mencari solusi bersama.

2. Mendengarkan sudut pandang orangtua

Setelah menyampaikan perasaan, memberi ruang bagi orangtua untuk menjelaskan sudut pandang mereka juga dinilai penting. Bisa jadi ada alasan tertentu di balik keputusan atau tindakan yang belum sepenuhnya dipahami oleh anak. Dalam beberapa kasus, orangtua juga dapat memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi tanpa menyadari bahwa tuntutan tersebut membebani.

George W. Holden, Ph.D., Professor and Chair of the Department of Psychology at Southern Methodist University, menyebut orangtua kerap memiliki ekspektasi yang tidak tepat terhadap perilaku anak dan mengharapkan terlalu banyak. Dengan mendengarkan penjelasan orangtua, komunikasi dapat terbangun lebih baik dan solusi yang lebih adil bagi kedua pihak lebih mungkin ditemukan.

3. Berfokus pada solusi, bukan menyalahkan

Saat kecewa, penyampaian yang bernada menyalahkan atau terlalu emosional cenderung membuat komunikasi tidak efektif. Karena itu, fokus pada solusi dinilai lebih membantu daripada memperpanjang perdebatan tentang siapa yang salah.

Pendekatan yang lebih konstruktif dapat dilakukan dengan menyampaikan harapan secara jelas. Misalnya, alih-alih melontarkan kalimat bernada absolut seperti “Kamu selalu tidak mengerti aku!”, anak dapat mengutarakan kebutuhan dengan lebih spesifik, seperti “Aku ingin kita bisa saling memahami lebih baik. Bisa nggak kita cari cara supaya aku juga merasa didengar?”

Pada akhirnya, menyampaikan rasa kecewa kepada orangtua membutuhkan keberanian dan kesabaran. Dengan memilih waktu yang tepat, saling mendengarkan, dan mengarahkan percakapan pada solusi, komunikasi berpeluang menjadi lebih sehat dan hubungan tetap terjaga.