BERITA TERKINI
TEP UNDIP Gelar FGD dan Workshop di Senggi untuk Perkuat Intervensi Gizi dan PHBS

TEP UNDIP Gelar FGD dan Workshop di Senggi untuk Perkuat Intervensi Gizi dan PHBS

Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Diponegoro (UNDIP) Tim 4 menggelar Focus Group Discussion (FGD) dan Workshop Patriot Educare di Aula UPTD Puskesmas Senggi, Kabupaten Keerom, Papua, Jumat (11/9). Kegiatan bertema “Upaya Penurunan Stunting dari Aspek Gizi dan Kesehatan” ini diarahkan untuk memperkuat langkah pencegahan stunting melalui pemenuhan gizi seimbang, penanganan masalah gizi anak, perhatian pada kesehatan ibu dan remaja putri, serta penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Forum tersebut melibatkan 55 peserta lintas sektor, mulai dari unsur pemerintah dan keamanan seperti kepala distrik, kepala kampung, Kapolsek, Danramil, dan perwakilan Pos Kotis; tokoh adat (Ondoafi dan Kepala Keret); institusi pendidikan; jajaran pelayanan kesehatan termasuk Kepala Puskesmas, tenaga kesehatan, serta kader Posyandu, Posbindu, dan Malaria; hingga masyarakat umum.

Kolaborasi ini dinilai relevan dengan tantangan gizi yang dicatat UPTD Puskesmas Senggi per Agustus 2026. Data tersebut mencakup tiga kasus kurang gizi, tiga kasus gizi lebih, dan delapan kasus berisiko gizi lebih. Selain itu, terdapat enam ibu hamil mengalami Kekurangan Energi Kronis (KEK) serta tiga lainnya berisiko KEK. Pada kelompok remaja putri, hasil skrining terhadap 52 siswi menemukan 16 siswi terindikasi anemia.

Di bawah koordinasi Ketua Tim 4 Ekspedisi Patriot UNDIP, Prof. Dr. Diana Nur Afifah, S.T.P., M.Si., program ini juga disertai penyerahan fasilitas edukasi berupa tiga modul kesehatan dan empat booklet. Media tersebut diserahkan kepada kader, guru, dan remaja putri untuk mendukung keberlanjutan edukasi di tingkat komunitas. Kegiatan ini turut melibatkan tim ahli, antara lain Dwi Intan Yuniar Sari, S.Gz., M.Gz.; Fenny Anggreany Nasution, S.Gz., M.Gz.; Tika Andriani, S.Gz., M.Gz.; Guntur Samudra, S.K.M.; dan Handika Mukti, S.Pd.

Pada sesi pertama, Tim 4 memaparkan penyelarasan program yang menitikberatkan percepatan penurunan stunting melalui integrasi layanan pendidikan dan intervensi gizi berbasis komunitas di Kawasan Transmigrasi Senggi. Prof. Diana menekankan bahwa penanganan stunting di wilayah tersebut perlu dilakukan secara terintegrasi dan menyesuaikan kondisi masyarakat setempat. Ia menyampaikan bahwa stunting tidak hanya berkaitan dengan asupan gizi, tetapi juga terkait kesehatan ibu dan anak, penyakit infeksi, sanitasi, pola pengasuhan, pendidikan, serta akses layanan kesehatan. Karena itu, kolaborasi lintas pihak dinilai penting agar intervensi berbasis kebutuhan lokal dan dapat berkelanjutan.

Diskusi kemudian dilanjutkan dengan pemaparan situasi kesehatan oleh Kepala UPTD Puskesmas Senggi, Antonius Hamong, Amd.Kep. Berdasarkan laporan Januari–Juli 2026, lima penyakit tertinggi di Distrik Senggi adalah hiperpireksia (2.426 kasus), malaria (1.305 kasus), bronkitis akut usia >15 tahun (618 kasus), gastritis (591 kasus), dan influenza (587 kasus). Antonius menyebut hiperpireksia dan malaria mendominasi lebih dari 51% total kasus yang tercatat. Ia juga menyoroti konsistensi kasus malaria dengan puncak pada Mei sebanyak 230 kasus dan Juli 233 kasus, serta mengingatkan pentingnya pencegahan melalui PHBS dan menjaga kesehatan tanpa menunggu sakit untuk berobat.

Merespons situasi tersebut, tenaga kesehatan bidang gizi UPTD Puskesmas Senggi, Tirta Ferdiansyah, AMG, menjelaskan layanan penanganan gizi yang dilakukan di dalam dan di luar Puskesmas. Pelayanan di dalam gedung meliputi konseling dan penyuluhan gizi serta kolaborasi antarklaster dan poli. Sementara pelayanan luar gedung mencakup kunjungan kasus gizi dan balita bermasalah gizi, rapat lintas sektor, sosialisasi dan distribusi tablet tambah darah kepada remaja putri, pemberian vitamin A dan obat cacing melalui Posyandu, PAUD/TK dan SD, pemantauan pertumbuhan balita, serta distribusi makanan tambahan bagi balita berisiko malnutrisi dan ibu hamil berisiko KEK.

Dari sisi lingkungan keluarga, dr. Victorio William Narendra dari Pos Kotis Senggi menyampaikan edukasi pencegahan penyakit melalui PHBS di tingkat rumah tangga. Ia menilai PHBS berperan mencegah penyakit infeksi maupun noninfeksi sekaligus meningkatkan kualitas hidup keluarga.

Memasuki sesi kedua, Workshop Patriot Educare diisi materi mengenai empat pilar gizi seimbang, yakni pola hidup aktif berolahraga, konsumsi makanan beraneka ragam, menjaga berat badan ideal, dan penerapan PHBS. Anggota TEP UNDIP, Dwi Intan Yuniar Sari, menyampaikan bahwa stunting perlu dipahami dari berbagai aspek, sehingga pemetaan masalah perlu melihat kondisi di tingkat keluarga, kampung, sekolah, layanan kesehatan, hingga lingkungan distrik.

Untuk mendorong penerapan materi, 55 peserta dibagi ke dalam lima kelompok dan berlatih pemecahan masalah melalui metode project-based learning. Peserta menyusun diagram fishbone untuk mengidentifikasi akar persoalan, mendiskusikan faktor penyebab stunting yang spesifik di lingkungan mereka, serta merumuskan prioritas intervensi yang dinilai paling relevan bagi Distrik Senggi. Pendekatan partisipatif ini diharapkan menghasilkan rekomendasi dan komitmen bersama sesuai kebutuhan masyarakat setempat.

Pelaksanaan Ekspedisi Patriot UNDIP di Distrik Senggi juga dikaitkan dengan dukungan terhadap Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 2 (Tanpa Kelaparan) melalui perbaikan gizi, SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui peningkatan kesehatan dan PHBS, serta SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui transfer edukasi berbasis modul.