Padang — Taufiq Cafe, usaha kuliner yang berlokasi di kawasan Business Center (BC) Universitas Andalas, telah beroperasi sejak 2010. Dalam menjalankan kegiatan hariannya, warung ini menerapkan pengelolaan operasional yang sederhana, mulai dari pengadaan bahan baku, alur pelayanan, pembagian kerja, hingga cara menghadapi fluktuasi harga.
Sebelum menempati lokasi di BC, Taufiq Cafe disebut pernah menjalankan usaha di Pasar Baru, Kota Padang. Dengan jam operasional yang berlangsung setiap hari, pengelolaan kegiatan harian menjadi bagian penting agar layanan tetap berjalan.
Menurut Bang Taufiq, aktivitas operasional dimulai sebelum warung dibuka. Persiapan dilakukan dengan membersihkan area sekitar dan membeli bahan-bahan pada pagi hari. Pola belanja harian ini membuat makanan yang disajikan dimasak dari bahan yang baru dibeli.
Setelah warung dibuka, alur pelayanan dibuat ringkas. Pelanggan memilih menu terlebih dahulu, kemudian makanan diambilkan. Setelah pelanggan duduk, makanan diantar langsung ke meja untuk mengurangi waktu tunggu.
Dalam pengadaan bahan, Taufiq Cafe tidak menerapkan jadwal belanja yang sama untuk semua jenis kebutuhan. Sayur, cabai, dan bawang dibeli di pasar sekali setiap dua hari, sementara daging dan ikan dibeli setiap pagi dari pemasok langganan. Perbedaan ini dilakukan karena daging dan ikan dinilai lebih cepat menurun kualitasnya sehingga perlu lebih sering dibeli.
Jumlah pembelian umumnya mengikuti kebiasaan pemakaian. Namun, keputusan belanja juga menyesuaikan kondisi harga di pasar. Ketika harga naik, jumlah pembelian dapat dikurangi.
Setelah bahan dibeli, proses penyimpanan dilakukan untuk menjaga kualitas. Daging dan ikan dibersihkan terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke freezer. Sayuran juga dibersihkan, dipotong, dan bagian yang tidak baik dibuang sebelum disimpan di tempat dingin, sehingga bahan siap diolah saat diperlukan.
Dalam pembagian kerja, Taufiq Cafe tidak menerapkan pembagian tugas yang kaku. Siapa pun yang sedang senggang dapat melayani pelanggan atau mengambilkan makanan. Pekerjaan memasak juga dilakukan oleh siapa saja yang sempat, dengan pengecualian untuk masakan yang membutuhkan banyak bumbu seperti gulai, yang biasanya dikerjakan oleh sang ibu selaku pemilik warung.
Dalam kondisi normal, warung dijaga dua orang. Saat pelanggan ramai, jumlah tenaga kerja dapat bertambah. Bang Taufiq menyebut adik-adiknya terkadang membantu atas kemauan sendiri, sehingga ketika ramai jumlah orang yang bekerja bisa mencapai sekitar empat orang. Pola kerja yang luwes ini dinilai membantu warung bergerak cepat tanpa harus menunggu orang tertentu mengerjakan tugas tertentu.
Bang Taufiq menyebut kendala yang paling sering muncul bukan dari dapur, melainkan dari kenaikan harga bahan baku. Untuk menyiasatinya, warung mencari alternatif pemasok dengan harga lebih murah serta menyesuaikan jumlah pembelian saat harga sedang tinggi.
Agar operasional tetap efisien ketika pelanggan membludak, penambahan tenaga menjadi langkah praktis yang diambil. Selain itu, komunikasi antarpekerja juga dijaga, misalnya dengan segera memberi tahu jika ada bahan atau pekerjaan yang kurang, sehingga masalah tidak menumpuk dan pekerjaan tetap terkendali.
Selama menjalankan usaha di BC sejak 2010, Taufiq Cafe menunjukkan pola pengelolaan yang tidak rumit: belanja disesuaikan dengan kebiasaan dan harga, bahan dijaga kualitasnya melalui penyimpanan yang rapi, pekerjaan dibagi secara fleksibel, dan keluarga siap membantu saat dibutuhkan.