Kuliner kaki lima Asia Tenggara kembali menjadi perhatian setelah platform panduan kuliner global TasteAtlas merilis daftar “100 Best Southeast Asian Street Food”. Dalam daftar tersebut, sejumlah hidangan khas Indonesia menempati posisi teratas, menegaskan kuatnya daya tarik makanan jalanan Nusantara di tingkat internasional.
Indonesia disebut tampil menonjol melalui ragam makanan tradisional yang lazim dijumpai di pinggir jalan hingga pusat kuliner rakyat. Kekayaan rempah serta keberagaman bahan lokal dinilai menjadi kekuatan utama yang membuat kuliner Indonesia diperhitungkan.
Peringkat pertama dalam daftar ditempati Sate Kambing. Hidangan ini dikenal berupa potongan daging kambing yang dibakar di atas bara api, lalu disajikan dengan bumbu kacang atau kecap manis yang dicampur irisan bawang dan cabai. Aroma asap dari proses pembakaran menjadi ciri khas yang membuat sate kambing digemari.
Posisi kedua ditempati Banh Mi Heo Quay dari Vietnam, roti baguette berisi daging panggang renyah yang dikenal lewat perpaduan tekstur garing, segar, dan gurih. Vietnam juga menempatkan Banh Mi dalam lima besar, tepatnya di peringkat keempat.
Sementara itu, Malaysia berada di posisi ketiga melalui Roti Canai. Roti pipih berlapis dengan tekstur lembut dan renyah ini umumnya disantap bersama kuah kari, dan menjadi salah satu makanan jalanan yang populer di Asia Tenggara.
Indonesia kembali muncul di peringkat lima lewat Siomay. Jajanan berbahan ikan yang dikukus ini disajikan bersama kentang, kol, tahu, telur, serta saus kacang khas, dan dikenal luas karena mudah ditemukan di berbagai daerah.
Di posisi keenam terdapat Batagor, singkatan dari “bakso tahu goreng” yang berasal dari Bandung. Makanan ini berupa tahu goreng berisi ikan yang disiram saus kacang gurih, dengan karakter renyah di luar dan lembut di dalam.
Selanjutnya, peringkat ketujuh ditempati Sate Padang. Berbeda dari sate pada umumnya, sate khas Sumatera Barat ini disajikan dengan kuah kental berbumbu rempah yang menghadirkan cita rasa gurih dan pedas. Penggunaan jeroan maupun daging sapi disebut menambah kekayaan rasanya.
Masuknya berbagai kuliner Indonesia dalam daftar tersebut dinilai menunjukkan daya saing makanan jalanan Nusantara, bukan hanya dari sisi rasa, tetapi juga identitas budaya yang tercermin dalam setiap sajian. Di balik gerobak sederhana dan warung kaki lima, kuliner tradisional dipandang sebagai warisan rasa yang mampu menarik perhatian dunia.

