BERITA TERKINI
Taruna Ikrar: Investasi Gizi dan Kesehatan Otak Anak pada 1.000 HPK Jadi Strategi Masa Depan Asia Tenggara

Taruna Ikrar: Investasi Gizi dan Kesehatan Otak Anak pada 1.000 HPK Jadi Strategi Masa Depan Asia Tenggara

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI Prof. Dr. Taruna Ikrar menegaskan pentingnya investasi pada kesehatan otak dan perkembangan kognitif anak sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai langkah strategis untuk masa depan bangsa.

Pernyataan itu disampaikan Taruna dalam keynote speech pada Pediatric Science & Health Summit 2026 bertajuk “Advancing Brain and Cognitive Health in Children: Integrating Neuroscience, Nutrition, and Innovation for Southeast Asia” yang dihadiri sekitar 500 dokter spesialis anak dari seluruh Indonesia. Acara tersebut berlangsung di Main Ballroom Renaissance Nusa Dua, Bali, Sabtu (8/8/2026).

Dalam paparannya, Taruna menjelaskan bahwa perkembangan otak anak pada 1.000 hari pertama kehidupan merupakan periode paling menentukan bagi kualitas kesehatan, kecerdasan, dan produktivitas seseorang di masa depan. Ia menyebut proses ini sangat dipengaruhi kecukupan nutrisi serta kemampuan otak untuk terus berkembang melalui mekanisme neuroplastisitas.

Taruna juga menyoroti temuan ilmu pengetahuan yang menunjukkan hubungan erat antara saluran cerna dan otak melalui gut-brain axis. Menurutnya, keseimbangan mikrobiota usus berperan penting dalam menjaga sistem imun sekaligus mendukung pematangan fungsi otak pada masa awal kehidupan.

Ia menambahkan, gangguan keseimbangan mikrobiota atau disbiosis dapat memicu peradangan sistemik yang berdampak negatif terhadap neuroplastisitas dan fungsi neurologis, sebagaimana dibuktikan dalam berbagai penelitian klinis pada manusia.

“Pesan utama yang ingin saya sampaikan adalah bahwa precision nutrition yang didukung mikrobiota usus yang sehat mampu menunjang pembentukan struktur otak, meningkatkan neuroplastisitas fungsional, serta menjaga regulasi sistem imun pada periode emas perkembangan anak,” ujar Taruna.

Taruna memaparkan gambaran tantangan gizi anak secara global dan nasional. Secara global, terdapat sekitar 647,3 juta anak berusia di bawah lima tahun, dengan prevalensi stunting 23,2 persen, wasting 6,6 persen, dan overweight 5,5 persen. Sementara di Indonesia, terdapat sekitar 22,6 juta balita, dengan prevalensi stunting 19,8 persen, wasting 6,3 persen, dan overweight 3,3 persen.

Menurutnya, data tersebut menunjukkan pemenuhan gizi anak masih menjadi tantangan besar yang memerlukan kolaborasi lintas sektor. Ia menyebut sejumlah intervensi berbasis bukti ilmiah—seperti promosi ASI eksklusif, suplementasi mikronutrien, pemberian makanan pendamping ASI yang tepat, serta program gizi sekolah—telah terbukti meningkatkan kelangsungan hidup anak, perkembangan kognitif, prestasi pendidikan, hingga produktivitas ekonomi di masa depan.

Taruna juga mengemukakan bahwa setiap investasi US$1 pada pengembangan anak usia dini dapat menghasilkan manfaat ekonomi hingga US$13 melalui peningkatan kualitas kesehatan, pendidikan, dan produktivitas masyarakat.

Ia menegaskan masa kanak-kanak merupakan golden period yang perlu didukung empat pilar utama, yakni kemajuan ilmu neurosains, pemenuhan nutrisi yang optimal, inovasi berbasis riset, serta regulasi berbasis bukti ilmiah. Menurut Taruna, inovasi pangan maupun nutrisi harus melalui penelitian, pembuktian ilmiah, komunikasi yang bertanggung jawab, serta harmonisasi regulasi sebelum diterjemahkan menjadi produk maupun rekomendasi kesehatan masyarakat.

Dalam kesempatan itu, Taruna didampingi staf khusus Kepala BPOM RI Wachyudi Muchsin. Ia menegaskan komitmen BPOM menjalankan amanat Undang-Undang Pangan beserta seluruh peraturan pelaksanaannya untuk memastikan setiap pangan olahan—khususnya bagi kelompok rentan seperti bayi dan anak—memenuhi standar keamanan, mutu, nilai gizi, serta manfaat yang didukung bukti ilmiah kuat.

“Regulasi yang baik bukanlah penghambat inovasi, melainkan fasilitator yang memastikan setiap inovasi dapat diterjemahkan menjadi produk yang aman, bermutu, bermanfaat, dan memberikan perlindungan maksimal kepada masyarakat,” tegasnya.

Untuk mempercepat peningkatan kualitas kesehatan anak di Asia Tenggara, Taruna mengajak negara-negara di kawasan memperkuat kolaborasi melalui konsep ABG (Academia, Business, Government). Ia menilai sinergi akademisi, dunia usaha, dan pemerintah dapat mempercepat penguatan riset, mendorong inovasi, memperluas akses terhadap produk berkualitas, memperkuat sistem regulasi, serta membangun kepercayaan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan.

“Healthy brains build healthy nations. Science inspires innovation. Evidence builds trust. Collaboration creates impact. Bersama-sama kita dapat mewujudkan kesehatan otak dan perkembangan kognitif terbaik bagi setiap anak serta membangun Asia Tenggara yang lebih sehat, lebih cerdas, dan lebih sejahtera,” kata Taruna.

Menutup pidatonya, Taruna menekankan bahwa keputusan regulator memiliki makna yang melampaui proses administratif. “Setiap izin yang saya setujui, setiap persoalan yang saya selesaikan, dan setiap dokumen yang saya tandatangani bukan sekadar prosedur administratif, melainkan langkah nyata untuk melindungi kehidupan manusia,” pungkasnya.