BERITA TERKINI
Tarakan Dorong Pangan Lokal untuk Cegah Stunting dan Penuhi Gizi Seimbang

Tarakan Dorong Pangan Lokal untuk Cegah Stunting dan Penuhi Gizi Seimbang

TARAKAN, Kalimantan Utara — Tantangan gizi dan ancaman stunting di Kalimantan Utara, khususnya Kota Tarakan, terus menjadi perhatian. Dalam peringatan Hari Gizi Nasional, pemerintah daerah mendorong masyarakat kembali memanfaatkan kekayaan pangan lokal sebagai sumber nutrisi utama, seperti ikan bandeng dan udang, yang dinilai lebih unggul dibandingkan makanan siap saji.

Ketua Persagi DPC Kota Tarakan, Nur Ahmad Kurniawan, menilai Tarakan memiliki keuntungan karena sumber daya laut yang berlimpah. Namun, ia melihat adanya pergeseran pola konsumsi masyarakat yang cenderung menurun terhadap hasil laut seiring perubahan gaya hidup. Menurutnya, sebagian anak muda menganggap pangan lokal sebagai sesuatu yang tertinggal zaman dan lebih memilih makanan di kafe.

Di sisi lain, persoalan stunting di Tarakan disebut menunjukkan angka yang fluktuatif, meski terdapat optimisme karena prevalensi mulai menurun. Dinas Kesehatan Kota Tarakan menekankan pentingnya membangun pola makan sehat sejak dini dalam lingkungan keluarga. Intervensi spesifik juga terus dilakukan, terutama di wilayah pesisir yang menjadi lokus prioritas karena tantangan sanitasi serta kebiasaan hidup masyarakat setempat.

Ketua Posyandu, Nina Ruslina, menceritakan pengalamannya menghadapi kebiasaan sebagian orang tua yang lebih memilih makanan instan karena praktis. Ia menyebut minimnya kreativitas dalam mengolah ikan membuat anak cepat bosan, lalu beralih ke jajanan yang rendah zat gizi. Karena itu, kader Posyandu memperkuat edukasi pengolahan pangan lokal menjadi bentuk yang lebih menarik, seperti nugget ikan.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai berjalan turut dinilai membantu upaya pemenuhan gizi di Tarakan. Program ini menyasar anak sekolah sekaligus ibu hamil, ibu menyusui, dan balita sebagai penerima manfaat utama. Antusiasme warga terlihat ketika armada pengantar makanan tiba di titik-titik layanan kesehatan masyarakat di tingkat kelurahan.

Pemanfaatan pangan lokal dalam program pemerintah tersebut juga diarahkan untuk menggerakkan ekonomi, termasuk UMKM dan nelayan setempat. Sinergi antara ahli gizi dan penyedia layanan makanan dilakukan agar setiap porsi yang disalurkan memenuhi standar angka kebutuhan gizi yang ditetapkan. Upaya ini sekaligus diharapkan mengubah pandangan bahwa makanan sehat selalu identik dengan biaya mahal.

Dinas Kesehatan turut menyoroti faktor di luar makanan yang memengaruhi status gizi, seperti paparan asap rokok dan kualitas sanitasi lingkungan. Pernikahan dini serta rendahnya tingkat pendidikan orang tua juga disebut menjadi variabel yang dapat memicu kasus gizi buruk pada balita. Penyuluhan langsung ke rumah-rumah warga dengan pendekatan humanis menjadi salah satu strategi untuk menjangkau akar persoalan.

Dalam penutup dialog, para pakar menekankan bahwa kualitas kesehatan generasi menuju Indonesia Emas 2045 berkaitan erat dengan pola konsumsi hari ini. Masyarakat diingatkan untuk membiasakan membaca label pangan serta membatasi asupan gula, garam, dan lemak. Dengan mengonsumsi pangan lokal, warga Tarakan dinilai dapat memperkuat fondasi kesehatan bagi generasi berikutnya.