BERITA TERKINI
Tahu Telur Lontong Bu Suyut di Tulungagung Bertahan Sejak 1979, Kini Diteruskan Generasi Ketiga

Tahu Telur Lontong Bu Suyut di Tulungagung Bertahan Sejak 1979, Kini Diteruskan Generasi Ketiga

Kuliner tradisional masih memiliki tempat tersendiri di tengah perubahan selera dan tren makanan. Di Tulungagung, salah satu yang tetap bertahan adalah Tahu Telur Lontong Bu Suyut, warung sederhana yang telah berjualan sejak 1979 dan kini diteruskan hingga generasi ketiga.

Usaha ini saat ini dipegang Oky Ocktaviani. Ia melanjutkan warung keluarga yang telah melewati berbagai perkembangan zaman. “Alhamdulillah, bangga bisa meneruskan usaha dari nenek,” ujar Oky.

Nama “Bu Suyut” sendiri muncul dari kebiasaan pelanggan. Suyut merupakan nama ayah Oky. Saat usaha dilanjutkan oleh ibunya, sang ibu enggan menggunakan namanya sendiri. Pelanggan kemudian terbiasa memanggilnya Bu Suyut, dan sebutan itu melekat hingga sekarang.

Setelah ibunya meninggal tiga tahun lalu, Oky memutuskan mengambil alih usaha. Ia sempat bekerja dan menetap di Malang, namun memilih pulang ke Tulungagung untuk fokus mengembangkan bisnis keluarga. Pada awalnya, ia berjualan dari rumah secara offline dan mengandalkan aplikasi pesan-antar. Menurutnya, hasil yang didapat cukup menjanjikan dan menumbuhkan keyakinan untuk meneruskan usaha.

“Daripada kerja ikut orang, lebih senang jadi bos untuk usaha sendiri. Capek iya, tapi puas,” katanya.

Di tengah upaya pengembangan, Oky menegaskan cita rasa tetap dijaga. Bumbu kecap kacang yang diracik sendiri menjadi ciri khas. Sementara itu, lontong dimasak secara tradisional dengan cara direbus hingga empat jam agar tetap lembut tanpa bahan tambahan.

Persaingan kuliner yang semakin ketat mendorongnya melakukan sejumlah langkah. Oky menambah menu baru berupa tahu telur tek, serta menjalankan strategi promosi untuk pelajar dan program diskon beli lima gratis satu. Ia juga memaksimalkan media sosial seperti Instagram dan TikTok untuk menjangkau pelanggan yang lebih muda.

“Kalau dulu hanya dari mulut ke mulut, sekarang harus ikut perkembangan zaman,” ujarnya.

Dari usaha tersebut, omzet kotor per hari disebut bisa mencapai Rp 4–5 juta. Namun bagi Oky, capaian utama bukan semata angka, melainkan keberlanjutan usaha keluarga yang telah berjalan lintas generasi. Ia pun berpesan kepada anak muda agar tidak mudah menyerah.