Minat masyarakat Indonesia untuk memulai usaha terus menunjukkan tren positif seiring berkembangnya ekosistem kewirausahaan dan semakin mudahnya akses teknologi digital. Sejalan dengan itu, calon pelaku usaha juga kian memiliki preferensi yang jelas mengenai sektor bisnis yang ingin digeluti.
Gambaran tersebut tercermin dalam survei Jakpat yang dilakukan pada 5–6 Februari 2026. Survei ini melibatkan 1.387 responden dengan margin of error di bawah 5%, dengan komposisi yang disesuaikan dengan populasi pengguna internet di Indonesia. Dari total responden, 1.258 di antaranya merupakan calon pelaku usaha atau pemilik usaha.
Hasil survei menunjukkan sektor makanan dan minuman menjadi pilihan paling diminati. Sebanyak 45% responden memilih bidang ini, menjadikannya sektor utama yang ingin ditekuni. Tingginya minat disebut terkait besarnya pasar serta relatif mudahnya bisnis kuliner untuk dimulai.
Di posisi berikutnya, sektor kebutuhan pokok (grosir) dipilih oleh 30% responden. Sektor ini dinilai memiliki permintaan yang stabil karena berkaitan langsung dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Sementara itu, sektor fashion dan tekstil menjadi pilihan 21% responden. Industri ini tetap menarik, terutama dengan dukungan platform digital yang memudahkan distribusi dan pemasaran produk.
Minat terhadap agribisnis juga terlihat, dengan 19% responden memilih bidang pertanian, peternakan, dan perikanan. Adapun sektor properti dan real estate diminati oleh 12% responden.
Selanjutnya, sektor kecantikan dan produk perawatan pribadi, pendidikan dan pelatihan, serta telekomunikasi dan produk digital masing-masing dipilih oleh 11% responden. Ketiga bidang ini dinilai memiliki prospek pertumbuhan seiring perubahan gaya hidup dan perkembangan teknologi.
Di sisi lain, sektor seni, hiburan, dan rekreasi serta ekspor-impor masing-masing diminati oleh 9% responden. Meski persentasenya lebih kecil, kedua sektor tersebut tetap dipandang memiliki peluang bagi pelaku usaha yang memiliki minat dan keahlian khusus.
Secara umum, survei ini menunjukkan calon pebisnis di Indonesia cenderung memilih sektor yang dekat dengan kebutuhan sehari-hari, memiliki pasar luas, dan berpotensi berkembang di era digital.

