BERITA TERKINI
Sumo Smokes Bertahan Satu Dekade di Pontianak: Jaga Konsistensi Rasa, Perkuat SOP, dan Adaptasi Digital

Sumo Smokes Bertahan Satu Dekade di Pontianak: Jaga Konsistensi Rasa, Perkuat SOP, dan Adaptasi Digital

Mempertahankan bisnis kuliner selama satu dekade bukan hal mudah. Selain menjaga cita rasa, pelaku usaha dituntut mampu mengikuti perubahan perilaku konsumen serta perkembangan teknologi digital. Tantangan itu menjadi bagian dari perjalanan Sumo Smokes, restoran kuliner Jepang lokal yang beroperasi di Pontianak sejak 2016.

Perjalanan usaha tersebut dibahas dalam program OTW (Obrolan Tentang Wirausaha) RRI Pro 2 Pontianak, Sabtu, 19 September 2026, bertema “Dari Mangkuk Ramen ke Peluang Bisnis”. Acara ini menghadirkan Head Marketing Sumo Smokes Steven, Sistem Operasional Sumo Smokes Yoga Anggara, serta perwakilan LPPOM Kalimantan Barat Didik Heriadi.

Sumo Smokes menawarkan beragam menu bernuansa Jepang, mulai dari ramen, rice bowl, sushi, hingga gyoza. Sejak berdiri, restoran ini berupaya menyesuaikan cita rasa hidangannya dengan selera masyarakat Pontianak.

Steven menjelaskan, nama “Sumo” tidak merujuk pada porsi makanan yang besar. Ia menyebut filosofi tersebut diambil dari tagline “Eat Like Sumo” yang menekankan harapan agar pelanggan merasa puas dan ingin kembali menikmati ramen yang disajikan. “Kalau untuk porsi makan, kita normal seperti orang biasanya, bukan porsi sumo. Cuma kita ambil filosofinya dari tagline yang kita punya, yaitu 'Eat Like Sumo'. Kita mau customer makan ramen kita satu kali, terus ketagihan makan terus. Hasrat makan yang terus-menerus itu yang menjadi nama kita,” ujar Steven.

Menurutnya, menjaga kepuasan pelanggan menjadi salah satu kunci bertahan. Di sisi lain, Sumo Smokes juga terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi, termasuk memanfaatkan media sosial sebagai bagian dari strategi pemasaran.

Dari sisi operasional, konsistensi kualitas dinilai penting untuk menjaga pengalaman pelanggan di setiap cabang. Yoga Anggara, yang juga Ketua Tim Manajemen Halal Internal Sumo Smokes, menyatakan konsistensi rasa dijaga melalui standar operasional prosedur (SOP), pengukuran bahan, serta pelatihan sumber daya manusia.

“Untuk menjaga konsistensi rasa, kita menetapkan standar yang terukur dan pelatihan tim. Percuma kita punya SOP dan sistem yang bagus tapi SDM tidak terlatih dengan baik. Dari resep hingga gramasi, semuanya tercopy-paste di tiga outlet,” kata Yoga. Ia menambahkan, standar tersebut diterapkan mulai dari resep hingga takaran bahan agar konsumen mendapatkan pengalaman dan cita rasa yang relatif konsisten di setiap outlet.

Selain kualitas rasa, aspek kehalalan juga menjadi perhatian dalam pengelolaan bisnis kuliner. Didik Heriadi dari LPPOM Kalimantan Barat menjelaskan, sertifikat halal tidak hanya berupa dokumen yang dipasang di tempat usaha, tetapi juga memuat lampiran daftar produk dan menu yang telah melalui proses sertifikasi.

“Sertifikat halal itu bukan cuma di luarnya ada sertifikat, tapi ada lampiran menu-menu di dalamnya. Semua harus tercatat. Sertifikat ini benar-benar menjamin kehalalan produk suatu restoran mulai dari bahan baku hingga fasilitasnya,” ujar Didik. Ia juga mengingatkan pelaku usaha kuliner mengenai kewajiban sertifikasi halal untuk produk makanan dan minuman.

Saat ini, Sumo Smokes memiliki tiga cabang di Kota Pontianak, yakni di Jalan Siam, Jalan Sutan Syahrir (Suwignyo), dan Jalan Hos Cokroaminoto (Merdeka). Selama satu dekade beroperasi, Sumo Smokes menekankan upaya mempertahankan bisnis melalui konsistensi produk, penguatan sistem operasional, pemanfaatan teknologi digital, serta jaminan kehalalan bagi konsumen.