BERITA TERKINI
Soto Winong Mas Bagong: Efraim Andhanny Merintis Warung Soto dari Lahan Keluarga di Jatikuwung

Soto Winong Mas Bagong: Efraim Andhanny Merintis Warung Soto dari Lahan Keluarga di Jatikuwung

Di tengah persaingan usaha kuliner di wilayah Solo Raya, sebuah warung soto sederhana di Dusun Winong, Kelurahan Jatikuwung, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, menyimpan cerita tentang keberanian memulai usaha dari nol. Warung itu bernama Soto Winong Mas Bagong, dirintis oleh Efraim Andhanny Chrisanto Soeyoedi yang akrab disapa Mas Bagong.

Efraim lahir dan besar di Solo, tepatnya di kawasan Banyuanyar. Kecintaannya pada makanan tradisional, terutama soto, tumbuh sejak muda. Ia mengaku kerap berkeliling mencoba berbagai warung soto, baik di Solo maupun di luar kota, hingga kebiasaan tersebut perlahan berubah menjadi keinginan untuk membuka usaha sendiri.

“Saya memang dari dulu suka sekali makan soto. Hampir di setiap kesempatan saya coba warung soto yang berbeda, baik di Solo maupun luar kota,” ujar Efraim saat ditemui di warungnya.

Kesempatan memulai usaha datang ketika keluarganya memiliki sebidang lahan kosong di daerah Jatikuwung. Meski berada di dalam gang dan dinilai kurang strategis untuk bisnis kuliner, Efraim melihat peluang untuk memanfaatkannya sebagai langkah awal mewujudkan rencana membuka warung soto.

“Awalnya memang sederhana, saya hanya ingin punya usaha kuliner. Kebetulan orang tua punya lahan kosong, akhirnya saya coba manfaatkan untuk buka warung soto,” katanya.

Nama “Soto Winong Mas Bagong” dipilih dengan alasan personal. “Winong” merujuk pada dusun tempat warung itu berdiri, sementara “Mas Bagong” adalah panggilan yang melekat pada dirinya sejak masa sekolah. “Teman-teman dari SMP sampai sekarang panggil saya Bagong, jadi sekalian saya pakai sebagai identitas usaha,” ungkapnya.

Dalam merintis usahanya, Efraim menyadari tantangan utama berasal dari lokasi warung yang berada di area masuk gang. Ia menyebut, sejak awal ia dan timnya memahami perlunya strategi agar orang tetap bersedia datang. “Dari awal kami sudah sadar lokasi ini masuk ke dalam, jadi tantangannya bagaimana menarik orang supaya mau datang ke sini,” ujarnya.

Selain mengandalkan cita rasa, Efraim juga memperhatikan kebutuhan masyarakat sekitar. Ia menilai di wilayah Jatikuwung belum banyak tempat makan soto yang nyaman dan memiliki kapasitas memadai, terutama untuk keperluan berkumpul atau rapat.

Ke depan, Efraim menyatakan ingin mengembangkan Soto Winong Mas Bagong melalui pemasaran digital. Ia berencana memanfaatkan media sosial dan teknologi untuk menjangkau lebih banyak orang, tidak hanya warga sekitar, tetapi juga dari daerah lain. Ia juga menyimpan harapan untuk membuka cabang di lokasi berbeda jika memungkinkan.

“Harapannya tentu bisa terus menjaga kualitas, dikenal lebih luas, dan kalau memungkinkan bisa buka cabang di tempat lain,” tutupnya.