Sebuah kedai berwarna kuning bertuliskan Serabi Asmoro tampak berdiri di seberang Jalan K.H Wahid Hasyim, Demaan, Kota, Kudus. Di tempat itu, Juningsih (42) menjalankan usaha serabi yang telah ia tekuni lebih dari tujuh tahun.
Juningsih, warga Papringan, Kaliwungu, Kudus, bercerita bahwa sebelum berjualan serabi ia bekerja sebagai penjahit. Keinginannya untuk memiliki usaha sendiri mendorongnya beralih ke kuliner tradisional yang menurutnya kini semakin jarang ditemui.
Dengan bahan dasar tepung beras, santan, dan gula, Juningsih memulai usaha dari nol. Ia mengatakan, dalam sehari kedainya dapat menghabiskan sekitar 2 kilogram adonan untuk produksi serabi.
Kedai Serabi Asmoro buka setiap hari mulai pukul 07.00 WIB hingga 21.00 WIB. Juningsih menyebut, rata-rata ia mampu menjual hingga 20 porsi serabi per hari.
Serabi buatannya dibanderol Rp25.000 per porsi. Dari penjualan harian tersebut, ia mengaku bisa meraih omzet sekitar Rp500 ribu per hari.
Juningsih menilai serabi memiliki penggemar tersendiri. Ia memilih menekuni usaha ini karena ingin menawarkan jajanan tradisional yang berbeda di tengah pilihan kuliner yang semakin beragam.

