Pertumbuhan sektor penyediaan akomodasi dan makan minum di Kalimantan Timur mencapai 13,79 persen pada triwulan II 2026. Angka ini lebih tinggi dibanding pertumbuhan sektor serupa secara nasional yang tercatat 10,60 persen, sekaligus menjadi sinyal meningkatnya aktivitas bisnis kuliner di daerah, termasuk Balikpapan.
Sejumlah faktor dinilai ikut mendorong ruang tumbuh bagi pelaku usaha makanan dan minuman, mulai dari perkembangan pariwisata dan perhotelan, aktivitas industri, hingga investasi. Namun, peningkatan jumlah pelanggan dan omzet bukan satu-satunya tantangan ketika pelaku usaha mulai mempertimbangkan ekspansi.
Ketika bisnis berkembang dari satu menjadi beberapa outlet, pengelolaan stok, biaya bahan baku, transaksi, pembelian, hingga laporan keuangan perlu dikendalikan secara konsisten. Topik tersebut menjadi salah satu fokus pembahasan dalam kegiatan Kopdar Racik Bisnis F&B Balikpapan yang digelar ESB (PT Esensi Solusi Buana) di Zurich Hotel Balikpapan, Kamis (24/9/2026).
ESB mencatat terdapat 100 merchant dengan 185 outlet aktif yang menggunakan sistem ESB di Balikpapan sepanjang Januari hingga Juli 2026. Pada outlet yang sama (same-store), jumlah transaksi tercatat tumbuh 16,5 persen secara tahunan, sementara pertumbuhan omzet berada di angka 3 persen.
Data yang sama juga menunjukkan 37,8 persen merchant ESB di Balikpapan telah memiliki lebih dari satu outlet. Dalam 12 bulan terakhir, sejumlah merchant yang menggunakan ESB juga kembali melakukan ekspansi dengan membuka outlet baru.
Co-Founder dan CEO ESB, Gunawan, mengatakan pertumbuhan transaksi dan omzet perlu dibaca lebih mendalam sebelum pelaku usaha memutuskan membuka cabang baru. Menurut dia, pola pengawasan yang mengandalkan pemantauan langsung pemilik masih bisa dilakukan saat hanya memiliki satu outlet, tetapi tidak lagi memadai ketika outlet bertambah.
Gunawan menilai selisih antara pertumbuhan transaksi 16,5 persen dan kenaikan omzet 3 persen merupakan sinyal yang perlu dicermati. Ia menyebut forum tersebut dihadirkan agar pelaku usaha dapat meninjau data bisnis masing-masing dan mengetahui aspek yang perlu dibenahi sebelum ekspansi berikutnya.
Dalam diskusi yang sama, disampaikan pula bahwa kebutuhan pengelolaan bisnis akan berubah seiring bertambahnya jumlah outlet. Sistem yang terintegrasi dinilai dibutuhkan agar pemilik dapat memantau kinerja tiap outlet secara lebih terukur. Selain itu, kesiapan sumber daya manusia, proses kerja yang dapat direplikasi, serta standar operasional yang konsisten disebut menjadi bagian penting dalam rencana ekspansi.
Pada kegiatan tersebut, ESB turut memperkenalkan sejumlah solusi teknologi untuk membantu integrasi operasional. ESB POS disebut digunakan untuk mengelola transaksi secara real-time serta membantu pemantauan stok dan perhitungan harga pokok penjualan (HPP). Ada pula ESB Order yang memungkinkan pelanggan melakukan pemesanan dan pembayaran digital melalui kode QR untuk layanan makan di tempat maupun takeaway.
Sementara ESB Core atau ERP F&B ditujukan untuk memberikan visibilitas stok dan inventaris secara real-time serta membantu pemantauan biaya bahan baku dan margin. ESB juga memperkenalkan OLIN by ESB, teknologi berbasis kecerdasan buatan yang digunakan untuk menganalisis data transaksi dan operasional, termasuk analisis bisnis, rekomendasi strategi promosi, serta prediksi kebutuhan stok bahan baku.
Kopdar Racik Bisnis F&B Balikpapan merupakan bagian dari rangkaian roadshow ESB di 10 kota sepanjang 2026. Program ini dirancang sebagai ruang diskusi, mentoring, dan pembahasan studi kasus bagi pemilik usaha, founder, maupun pengambil keputusan di bisnis F&B.
Balikpapan dipilih sebagai salah satu kota dalam rangkaian kegiatan tersebut seiring pertumbuhan aktivitas ekonomi dan bisnis kuliner di Kalimantan Timur. Gunawan menyampaikan bahwa perkembangan industri F&B di Kaltim tidak hanya terlihat dari angka pertumbuhan, tetapi juga dari perubahan cara pelaku usaha dalam mengelola bisnis, termasuk perhatian pada stok, biaya, dan kinerja tiap outlet.
Kegiatan ini juga membuka ruang kolaborasi dengan komunitas bisnis lokal dan asosiasi kuliner. Dalam pelaksanaannya, program tersebut didukung sejumlah mitra, di antaranya BCA sebagai Official Payment Partner melalui ekosistem pembayaran OCEAN by BCA serta Blueprint yang menyediakan perangkat keras untuk mendukung kebutuhan operasional bisnis F&B.