Industri kuliner di Kalimantan Timur (Kaltim) mencatat pertumbuhan yang menguat pada triwulan II 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim mencatat sektor penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 13,79%, lebih tinggi dibanding pertumbuhan sektor yang sama secara nasional sebesar 10,60%.
Menurut BPS Kaltim, peningkatan ini didorong oleh semakin bergairahnya aktivitas pariwisata, perhotelan, dan bisnis kuliner di wilayah tersebut. Bank Indonesia Kaltim juga mendorong pariwisata sebagai salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru daerah. Di sisi lain, aktivitas industri dan investasi di Kaltim disebut terus berjalan, termasuk perluasan kapasitas kilang minyak dan gas di Balikpapan.
Momentum tersebut membuka peluang bagi pelaku usaha makanan dan minuman (F&B) di Balikpapan dan Kaltim. Namun, seiring bisnis berkembang dari satu outlet menjadi beberapa cabang, tantangan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan peningkatan penjualan, melainkan juga pengendalian operasional, mulai dari transaksi, stok bahan baku, biaya atau harga pokok penjualan (HPP), purchasing, pembayaran, hingga pelaporan antar-outlet agar dapat dipantau secara konsisten dan terpusat.
Kondisi ini membuat kebutuhan sistem operasional restoran yang terintegrasi dinilai semakin relevan. Untuk bisnis F&B multioutlet, aplikasi kasir saja disebut tidak selalu memadai karena sistem point of sale (POS) perlu terhubung dengan pengelolaan inventori, ERP atau back-office, pemesanan pelanggan, operasional dapur, hingga analisis data agar pemilik usaha memiliki visibilitas menyeluruh terhadap bisnisnya.
PT Esensi Solusi Buana (ESB) menyampaikan tengah mengembangkan ekosistem teknologi operasional F&B terintegrasi yang menghubungkan POS, ERP dan back-office, online ordering, operasional dapur, customer engagement, hingga AI-powered business analytics dalam satu sistem.
Berdasarkan data internal ESB, sepanjang Januari–Juli 2026 terdapat 100 merchant dengan 185 outlet aktif bertransaksi menggunakan sistem ESB di Balikpapan. Pada outlet yang sama dan dibandingkan pada periode setara (same-store), jumlah transaksi tumbuh 16,5% secara tahunan, sementara omzet tumbuh 3%. ESB juga mencatat 37,8% merchant di Balikpapan telah memiliki lebih dari satu outlet, dan dalam 12 bulan terakhir sejumlah merchant melakukan ekspansi dengan membuka outlet baru.
Co-Founder & CEO ESB, Gunawan, menilai fase transisi dari mengelola satu outlet menjadi beberapa outlet merupakan titik krusial yang sering luput dari perhatian pelaku usaha. Ia menyoroti data Balikpapan yang menunjukkan pertumbuhan transaksi 16,5% namun omzet hanya naik 3% sebagai sinyal yang perlu dibaca serius. Menurutnya, pelaku usaha perlu meninjau data operasional dan mengidentifikasi aspek yang perlu dibenahi sebelum melakukan ekspansi berikutnya.
Untuk membahas tantangan tersebut, ESB menggelar Kopdar Racik Bisnis F&B Balikpapan pada Kamis, 24 September 2026 di Zurich Hotel Balikpapan. Kegiatan ini dihadiri pelaku usaha F&B lokal dan dirancang sebagai diskusi praktis mengenai kesiapan operasional dalam menghadapi pertumbuhan dan ekspansi multioutlet.
Acara tersebut menghadirkan Agung Haryadi, F&B Educator & Management Consultant. Ia menekankan bahwa banyak pemilik restoran baru merasakan operasional mulai kewalahan setelah outlet kedua atau ketiga berjalan. Menurut Agung, ekspansi seharusnya direncanakan lebih awal dengan mempersiapkan kesiapan tim, proses yang dapat direplikasi, serta standar yang konsisten antar-cabang.
Dalam kesempatan itu, ESB juga memperkenalkan sejumlah solusi yang dikaitkan dengan tantangan operasional multioutlet, di antaranya ESB POS, ESB Order, ESB Core (ERP), serta OLIN by ESB yang disebut berbasis artificial intelligence untuk menganalisis data operasional dan transaksi harian.
Gunawan menyampaikan optimisme terhadap pertumbuhan Kaltim, seraya menilai sikap pelaku usaha yang mulai memperhatikan stok, biaya, dan performa tiap outlet menjadi faktor penting bagi keberlanjutan bisnis.
Kopdar Racik Bisnis F&B disebut merupakan inisiatif edukasi berkelanjutan ESB yang dikemas sebagai forum diskusi, mentoring, dan bedah studi kasus bagi pemilik usaha dan pengambil keputusan. Balikpapan menjadi salah satu kota dalam rangkaian roadshow 10 kota nasional sepanjang 2026. Program ini juga membuka ruang kolaborasi dengan komunitas bisnis lokal seperti PKID, TDA, serta asosiasi kuliner di berbagai daerah, dengan dukungan mitra strategis seperti BCA sebagai mitra pembayaran dan BLUEPRINT sebagai penyedia perangkat keras.