BERITA TERKINI
Sate Lilit Bali Dilirik Jadi Peluang Usaha 2026, Pengusaha Katering di Badung Batasi Produksi hingga 5.000 Tusuk per Hari

Sate Lilit Bali Dilirik Jadi Peluang Usaha 2026, Pengusaha Katering di Badung Batasi Produksi hingga 5.000 Tusuk per Hari

Di tengah tren makanan kekinian, kuliner tradisional masih memiliki tempat di masyarakat. Salah satu yang disebut kian diminati dan diprediksi menjadi peluang usaha menjanjikan pada 2026 adalah sate lilit Bali.

Peluang tersebut dilakoni I Made Mudra, pemilik Intan Adi Catering asal Br. Aseman Kangin, Desa Adat Padonan, Kuta Utara, Badung. Ia menekuni usaha katering dengan menu sate lilit selama 10 tahun, setelah sebelumnya memiliki pengalaman 18 tahun bekerja sebagai chef di hotel dan restoran di Bali.

Made Mudra menuturkan, awal memulai usahanya tidak berlangsung instan. Ia melakukan serangkaian percobaan resep, lalu membagikan hasilnya kepada teman-teman di sekitarnya yang sedang memiliki kegiatan upacara. Ia sempat memberikan 50 tusuk sate lilit secara gratis sebagai bagian dari strategi promosi.

Setelah melalui percobaan berulang, produknya mulai diterima dan pesanan berdatangan. Permintaan tidak hanya datang dari Bali, tetapi juga hingga luar daerah, termasuk Jakarta.

Sate lilit buatan Made Mudra juga pernah diikutkan lomba dan meraih juara satu. Pengalaman tersebut, menurutnya, menambah keyakinan bahwa konsep rasa dari racikan resepnya dapat diterima pasar. Seiring pesanan yang meningkat, ia mengaku kewalahan dan akhirnya membatasi produksi maksimal 5.000 tusuk per hari. Jika melebihi jumlah itu, pesanan terpaksa ditolak.

Dalam sehari, usaha ini menghabiskan sekitar 30 kilogram daging ayam dan 30 kilogram daging babi. Selain sate lilit, usahanya juga menyediakan menu lain seperti serapah, lawar, jukut don belimbing, jukut ares, dan kuah balung. Ia menyebut omzet harian yang diperoleh berkisar Rp2 juta hingga Rp3 juta.

Terkait menjaga konsistensi rasa, Made Mudra menekankan pentingnya perbandingan bumbu dan teknik pengolahan. Ia menggunakan alat molen dalam proses pencampuran. Menurutnya, cara ini membuat proses lebih ringan, memengaruhi hasil rasa, serta membuat produk lebih awet karena tidak banyak tersentuh tangan.

Ia menyebut salah satu pembeda sate lilit produksinya adalah penggunaan bahan yang terdiri dari daging, bumbu Bali, dan santan, tanpa campuran kepala. Tujuannya agar sate lebih tahan dan tidak cepat basi atau rusak. Ia juga menjelaskan penggunaan bumbu genep dengan komposisi tertentu, termasuk bebungkilan yang terdiri dari kunyit, cekuk, jahe, dan isen, serta bawang merah dan bawang putih.

Pelanggan sate lilitnya berasal dari berbagai daerah. Produk ini kerap dipesan sebagai oleh-oleh hingga ke Jawa, Jakarta, dan Kalimantan, dengan pertimbangan daya tahan dan rasa, serta harga yang dinilai terjangkau.

Dalam mengelola usaha, Made Mudra menilai keberanian mencoba menjadi kunci, termasuk menjadikan kegagalan sebagai bahan evaluasi. Ia juga menekankan pentingnya keterbukaan menerima kritik, sekaligus memilah masukan yang relevan. Menurutnya, menjaga kualitas melalui konsistensi resep dan standardisasi rasa perlu dibarengi perhatian pada kebersihan dan kualitas bahan, karena menyangkut citra produk dan kepercayaan konsumen.

Ia memandang sate lilit tidak hanya sebagai makanan tradisional, tetapi juga bagian dari ekonomi kreatif yang berdaya saing. Dengan konsistensi rasa dan pengelolaan yang baik, usaha sate lilit dinilai memiliki peluang untuk berkembang di industri kuliner.