BERITA TERKINI
Rujak Berkah di Pamekasan Bertahan dengan Resep Lama dan Harga Fleksibel

Rujak Berkah di Pamekasan Bertahan dengan Resep Lama dan Harga Fleksibel

Aroma petis ikan tongkol berpadu dengan gurihnya kacang menyambut warga yang mampir ke Rujak Berkah di Desa Larangan Tokol, Pamekasan. Di balik racikan sederhana itu, tersimpan perjalanan panjang Manna yang menjaga warisan rasa keluarganya selama puluhan tahun.

Usaha kuliner tersebut bermula dari sang ibu sekitar 1987. Manna yang awalnya hanya membantu, perlahan meneruskan usaha itu hingga menjadi bagian penting dari kehidupan keluarganya.

Di tengah munculnya berbagai rujak dengan racikan yang lebih modern, Manna memilih mempertahankan resep lama. Ia tetap menggunakan pisang biji atau pisang klutuk sebagai bahan awal yang diulek, sebelum ditambahkan cabai, kacang goreng, dan petis ikan tongkol. Rujak itu kemudian disajikan bersama lontong, tahu, mentimun, krai, dan keripik singkong.

“Keunikannya karena sudah lama mungkin. Saya masih menggunakan pisang biji sebagai andalan pertama sebelum ditambah cabai dan kacang goreng,” ujar Manna, Rabu (19/8/2026).

Selain resep turun-temurun, Rujak Berkah bertahan karena prinsip yang dipegang Manna: tidak mematok harga secara kaku. Pembeli dapat menyesuaikan porsi dengan uang yang dimiliki, mulai dari rujak corek seharga Rp2.000 hingga porsi Rp5.000, atau sesuai kemampuan.

Prinsip tersebut tetap dijalankan meski harga bahan baku kerap berfluktuasi. Bagi Manna, kepuasan pelanggan lebih penting daripada sekadar menghitung besar kecilnya keuntungan.

“Tantangan yang dihadapi ya ketika semua bahan pokok naik, wah jadi bingung saya mau menentukan harga, karena dari dulu tidak pernah menentukan harga, kasihan. Jadi ya sudah tidak apa-apa saya lebih suka melihat pelanggan senang dan puas dengan rujak saya,” tambahnya.

Perjalanan panjang Rujak Berkah juga menjadi bagian dari cerita hidup Manna. Dari penghasilan yang awalnya tidak seberapa saat membantu ibunya, usaha itu perlahan menjadi tumpuan keluarga. Manna menyebut, dari hasil mengulek rujak ia bahkan mampu membangun rumah sendiri, meski berawal dari sebuah gubuk sederhana.

“Awalnya saya hanya membantu Ibu, kemudian keterusan dengan penghasilan yang sedikit, tapi cukup saya bisa membuat rumah sendiri meski diawali dengan gubuk biasa, namanya juga orang dulu,” kenangnya.

Kini, usaha tersebut mulai melintasi generasi. Manna masih melayani pembeli secara langsung di warung, sementara anak dan cucunya ikut membantu pemasaran secara daring.

Hubungan dengan pelanggan pun terjalin kuat. Manna mengatakan, rujak yang ia racik telah melekat dengan kenangan sebagian pembeli. Saat ia sempat berhenti berjualan karena sakit, sejumlah pelanggan datang menanyakan keberadaannya.

“Ini sudah menjadi daging bagi keluarga saya, dari Ibu kemudian ke saya. Meski sekarang sudah banyak rujak-rujak yang lebih enak dan modern, tapi Alhamdulillah banyak langganan yang membeli ke saya. Pernah saya sakit karena sudah tua, banyak yang kembali dan menanyakan kenapa saya tidak jual. Jadi selain kebutuhan hidup, jualan rujak juga karena kasihan dengan pelanggan yang selalu mencari rujak saya,” tuturnya.

Memasuki usia senja, Manna tidak memasang harapan muluk. Ia berharap tetap diberi kesehatan agar bisa terus mengulek bumbu dan menyajikan rujak bagi pelanggan.

“Saya berharap usaha saya tetap lancar dan para pembeli senang. Saya juga berterima kasih kepada pembeli karena sudah percaya dan membeli rujak saya. Kalau pelanggan saya senang, saya juga semakin semangat untuk menjual. Harapan saya semoga saya selalu sehat dengan umur saya yang semakin tua ini,” pungkasnya.