BERITA TERKINI
Perantau Flores di Yogyakarta Galang Dukungan untuk Korban Gempa Lewat Jejaring Lewut

Perantau Flores di Yogyakarta Galang Dukungan untuk Korban Gempa Lewat Jejaring Lewut

Seorang perantau asal Flores yang tinggal di Yogyakarta, Redemptus Kelen, menceritakan pengalamannya saat menerima kabar gempa bumi di Flores melalui media sosial pada 15 Agustus 2026. Kabar itu membuat pikirannya tertuju pada kampung halaman, sekaligus memunculkan rasa kaget, khawatir, sedih, dan dorongan untuk memastikan kondisi keluarga serta masyarakat di daerah asal.

Dalam situasi berada jauh dari kampung, ia mengaku terus mengikuti informasi yang beredar di media sosial, membaca unggahan warganet, dan berusaha memahami keadaan. Di tengah keterbatasan jarak, muncul pertanyaan yang menurutnya sederhana namun penting: apa yang bisa dilakukan dari perantauan.

Ia menilai jarak tidak seharusnya menjadi alasan untuk tidak peduli. Dari perasaan rindu kampung, kepedulian terhadap sesama, dan keinginan untuk berbuat sesuatu—meski kecil—ia mulai memikirkan langkah konkret agar bisa ikut hadir membantu saudara-saudara di Flores yang terdampak.

Dua hari setelah kabar gempa diterima, Redemptus mulai menghubungi teman-teman, adik-adik, dan kakak-kakak senior yang berasal dari kampung yang sama dan sama-sama berada di Yogyakarta. Komunikasi dilakukan melalui grup WhatsApp yang selama ini menjadi ruang pertemuan para perantau dengan latar belakang usia, kampus, dan kesibukan yang berbeda, namun terikat oleh asal daerah yang sama.

Dalam cerita itu, ia memperkenalkan istilah “Lewut”, yang bagi mereka bukan sekadar kata, melainkan makna kekeluargaan di tanah rantau. Lewut dipahami sebagai ikatan saudara sekampung yang merantau dan kemudian saling menemukan serta berkumpul di perantauan. Dalam keseharian, jejaring ini menjadi tempat berbagi cerita, bertanya, meminta bantuan, hingga menjadi keluarga pengganti ketika keluarga berada jauh di kampung halaman.

Saat menyampaikan gagasan untuk melakukan sesuatu bagi korban gempa, ia sempat diliputi keraguan mengenai respons anggota kelompok: apakah akan merespons, punya waktu, bersedia terlibat, dan apakah kegiatan bisa terlaksana. Namun, keraguan itu berangsur hilang ketika tanggapan dukungan datang dari berbagai anggota—mulai dari adik-adik, teman mahasiswa, hingga para senior.

Dari respons tersebut, ia menyimpulkan bahwa kepedulian yang ia rasakan ternyata juga dirasakan oleh banyak perantau lain. Keinginan untuk membantu, menurutnya, tidak berdiri sendiri, melainkan tumbuh sebagai sikap bersama ketika kabar duka datang dari kampung halaman.

Dalam dokumentasi yang disertakan, terlihat foto bersama anggota Lewut Jogja saat melakukan penggalangan dana sebagai bentuk dukungan dan bantuan bagi korban bencana di Flores, Nusa Tenggara Timur.