BERITA TERKINI
Roma Sari Gandum untuk Ibu Hamil: Boleh Jadi Camilan Sesekali, Tetap Perhatikan Gula dan Lemak

Roma Sari Gandum untuk Ibu Hamil: Boleh Jadi Camilan Sesekali, Tetap Perhatikan Gula dan Lemak

Roma Sari Gandum kerap dipilih sebagai camilan praktis oleh ibu hamil karena dibuat dari gandum utuh. Namun, seperti camilan lain selama kehamilan, konsumsinya tetap perlu diperhatikan agar tidak mengganggu pola makan bergizi seimbang.

Selama hamil, kebutuhan zat gizi meningkat. Karena itu, biskuit dapat menjadi pilihan sesekali, tetapi tidak dianjurkan menggantikan makanan utama yang lebih bernutrisi.

Menurut keterangan di situs resmi Mayora, Roma Sari Gandum merupakan biskuit sandwich berbahan gandum utuh (whole wheat) yang mengandung serat, protein, serta vitamin B, dengan isian di bagian tengah. British Dietetic Association (BDA) juga menilai gandum utuh sebagai sumber karbohidrat yang lebih baik karena dapat membantu menambah asupan serat, vitamin, dan mineral.

Meski berbahan gandum utuh, biskuit sandwich tetap termasuk makanan olahan yang umumnya mengandung gula dan lemak dari bahan isiannya. Karena kandungan gizi bisa berbeda antarvarian, ibu hamil disarankan membaca Informasi Nilai Gizi dan daftar komposisi pada kemasan sebelum membeli.

BDA menyebut biskuit, keripik, kue, dan cokelat boleh dinikmati sesekali selama kehamilan, tetapi tidak boleh menggantikan makanan yang lebih bergizi. Untuk pilihan camilan yang lebih bernutrisi, BDA menyarankan buah, yoghurt, kacang-kacangan, sereal gandum utuh dengan susu, atau roti gandum utuh.

Selain memilih jenis camilan, batas konsumsi gula harian juga perlu diperhatikan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI menganjurkan konsumsi gula tidak lebih dari 50 gram atau 4 sendok makan per orang per hari, garam 5 gram atau 1 sendok teh, serta lemak 67 gram atau 5 sendok makan minyak. Asupan gula dari camilan manis ikut dihitung dalam batas tersebut.

Ibu hamil dengan riwayat alergi juga diminta lebih cermat. Beberapa varian biskuit gandum dapat berisi bahan seperti selai kacang, susu, atau telur, sehingga penting mengecek label alergen pada kemasan bila memiliki alergi makanan.

Untuk membantu memilih camilan yang lebih sehat, biskuit sebaiknya dijadikan camilan sesekali dan dipadukan dengan sumber gizi lain, misalnya buah potong atau segelas susu. Ibu hamil juga dianjurkan memperhatikan takaran saji serta kandungan gula, lemak, dan garam pada label kemasan.

Kemenkes menekankan pentingnya memilih camilan yang mendukung pemenuhan gizi, termasuk protein, kalsium, dan zat besi. Contohnya telur, tahu, kacang-kacangan, atau yoghurt, sesuai prinsip gizi seimbang. Selain itu, ibu hamil disarankan mencukupi kebutuhan cairan dengan air putih dan membatasi minuman bersoda atau tinggi gula.

Bagi yang mudah mual atau cepat kenyang, pola makan porsi kecil tetapi lebih sering bisa dipertimbangkan. Terkait kebutuhan energi, BDA menyebut penambahan energi umumnya baru diperlukan sekitar 200 kalori pada trimester ketiga bagi ibu dengan berat badan normal.

Konsultasi dengan dokter atau bidan dianjurkan bila ibu hamil mengalami mual dan muntah berat hingga sulit makan, berat badan naik terlalu cepat atau justru turun, atau memiliki diabetes gestasional dan tekanan darah tinggi. Pemeriksaan segera juga diperlukan bila muncul gejala alergi setelah makan, seperti gatal, bengkak di bibir, atau sesak napas.

Dalam pedoman gizi seimbang ibu hamil, Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemenkes RI menyebut kebutuhan folat 600–800 mikrogram, kalsium 1.000 miligram, zat besi 27 miligram per hari, serta protein sekitar 70–100 gram per hari, bergantung pada berat badan dan usia kehamilan. Kemenkes juga menganjurkan pembatasan makanan padat energi, seperti camilan tinggi gula dan lemak, serta minuman bersoda.

Laman Ayo Sehat Kemenkes menambahkan, ibu hamil memerlukan sumber lemak sehat seperti omega-3 dan DHA dari alpukat, kacang, biji-bijian, dan ikan untuk mendukung perkembangan otak dan mata janin.