Jalan Ahmad Yani selama ini dikenal sebagai salah satu gerbang utama Surabaya dari arah Sidoarjo, sekaligus kawasan dengan arus kendaraan yang nyaris tak pernah sepi. Di balik padatnya lalu lintas roda dua hingga truk besar yang berebut ruang setiap pagi dan sore, pernah ada kisah sebuah permukiman yang bertahan di tengah kepungan aspal: Kampung Tengah.
Warga sekitar menyebutnya Kampung Tengah, sementara secara administratif kawasan tersebut tercatat sebagai bagian dari wilayah Jemur Gayungan. Lokasinya berada persis di antara dua jalur besar Jalan Ahmad Yani, terhimpit di antara arus menuju Wonokromo (masuk kota) dan arus menuju Bundaran Waru (keluar kota). Keberadaannya kerap luput dari pandangan pengendara karena tertutup pepohonan serta berada dekat ikon kawasan, Taman Pelangi.
Menurut Suliono, Ketua RT 01 RW 03 Jemur Gayungan yang menjabat pada 2022, kampung itu sudah ada jauh sebelum 1974. Pada masa itu, Kampung Tengah masih menyatu dengan permukiman di sisi barat jalan. Kondisi Jalan Ahmad Yani juga belum seperti sekarang; arus Wonokromo–Waru kala itu hanya dilayani satu akses di sisi timur.
Perubahan besar terjadi setelah 1974 ketika pemerintah membangun jalan baru di sisi barat untuk menampung volume kendaraan yang terus meningkat dari luar kota menuju pusat Surabaya. Pembangunan infrastruktur tersebut membelah wilayah Jemur Gayungan. Kampung Jemur Gayungan I yang sebelumnya membentang panjang dan tersambung hingga ke gang seberang, terpotong oleh badan jalan. Sejumlah rumah yang tersisa kemudian terisolasi di bagian tengah, menjadi cikal bakal kawasan yang belakangan dikenal sebagai Kampung Tengah.
Hidup di kawasan itu berarti tinggal di sebuah “pulau” kecil yang dikelilingi kendaraan. Suliono menyebut, sekitar 200 jiwa pernah tinggal di Kampung Jemur Gayungan I tersebut. Aktivitas warga berlangsung di tengah polusi suara dari dua jalur utama yang padat, terutama pada jam sibuk.
Kebisingan tidak hanya datang dari kendaraan. Letak permukiman yang sangat dekat dengan lintasan rel kereta api membuat warga juga akrab dengan suara klakson lokomotif dan gemuruh kereta yang melintas hampir setiap 30 menit. Sejumlah warga sempat mengeluhkan sulitnya beristirahat akibat kombinasi bising jalan raya dan kereta, meski dalam perjalanannya banyak yang mengaku terbiasa karena sudah menjadi rutinitas puluhan tahun.
Namun, ketahanan Kampung Tengah di tengah modernisasi akhirnya mencapai ujung. Pemerintah Kota Surabaya merencanakan pembangunan flyover untuk mengurai kemacetan kronis di Jalan Ahmad Yani, terutama di titik dekat Taman Pelangi. Proyek tersebut menuntut sterilisasi lahan yang berdampak langsung pada permukiman itu.
Rumah-rumah yang selama puluhan tahun menjadi saksi perubahan Surabaya Selatan kini telah rata dengan tanah. Warga direlokasi, dan lahan bekas permukiman beralih fungsi menjadi area konstruksi. Pemerintah menargetkan pembangunan flyover rampung pada 2027, dengan harapan arus lalu lintas di Ahmad Yani dapat lebih lancar.
Ketika nantinya jalan layang berdiri, perubahan itu sekaligus menandai berakhirnya sejarah kecil Kampung Tengah—permukiman yang terbentuk akibat pemekaran jalan pada 1974 dan bertahan lama di tengah kepungan dua jalur protokol Surabaya.

