Kebiasaan nongkrong Kaisar, remaja 17 tahun asal Sukabumi, kini tidak lagi dilakukan setiap hari. Pada hari sekolah, ia mengaku jarang keluar karena kelelahan. Waktu favoritnya untuk bertemu teman-teman lebih sering jatuh pada hari libur atau malam Minggu. Dalam sepekan, ia memperkirakan minum kopi di luar rumah sekitar tiga hingga empat kali.
Pada awalnya, pilihan Kaisar tak berbeda dari kebanyakan anak muda: kopi susu yang manis dan mudah diterima. Namun, variasi yang serupa membuatnya jenuh. Enam bulan terakhir, ia mulai beralih ke kopi tanpa gula, termasuk vietnam drip. Perubahan itu, menurutnya, bukan sekadar soal mencari rasa baru, melainkan juga bentuk kesadaran terhadap kondisi tubuh.
Pengalaman keluarga menjadi pemicu utama. Orang tua Kaisar saat ini menjalani cuci darah rutin dua hingga tiga kali dalam sepekan. Ia menuturkan, masalah kesehatan tersebut berawal dari upaya menurunkan berat badan dengan konsumsi kelapa muda berlebihan—dua hingga tiga butir per hari—yang kemudian memicu diabetes hingga berujung pada gagal ginjal.
Riwayat itu membuat Kaisar mulai menahan diri dari minuman manis. Ia memilih kopi tawar sebagai langkah pencegahan pribadi. “Orang tua saya kena penyakit ginjal, mulai cuci darah rutin seminggu dua hingga tiga kali. Jadi saya mulai aware terhadap kesehatan ginjal, mengurangi konsumsi gula-gulaan, dan mengganti ke yang tawar,” ujarnya.
Kaisar menyadari kopi tanpa gula masih menjadi tantangan bagi banyak temannya. Rasa pahit membuat sebagian enggan mencoba. Ia kerap menyarankan jenis arabika karena dinilai memiliki karakter yang lebih halus. Meski begitu, ia juga memahami kondisi fisik tiap orang berbeda. Bagi mereka yang memiliki masalah lambung, ia menyebut kopi susu masih kerap menjadi pilihan.
Dalam pandangannya, rasa kopi tidak hanya ditentukan oleh pilihan manis atau pahit. Ia menyoroti peran barista sebagai salah satu faktor penting. Dari biji kopi yang sama, hasil seduhan bisa berbeda tergantung tingkat gilingan dan suhu air. Detail teknis tersebut, menurut Kaisar, menentukan apakah kopi terasa lebih halus, terlalu pahit, atau justru asam.
Cerita Kaisar beririsan dengan gambaran kesehatan di Kota Sukabumi. Data menunjukkan adanya lonjakan diabetes melitus dan gagal ginjal kronik, dengan mayoritas pasien berada pada usia produktif. Dalam konteks ini, kopi bukan dipandang sebagai penyebab tunggal, melainkan kerap hadir sebagai “kendaraan” gula dalam bentuk susu dan menjadi bagian dari pola konsumsi yang dapat menumpuk risiko.

