BERITA TERKINI
Ranisa Fried Chicken Masuk Kampus: Upaya Kenalkan Kewirausahaan Lewat Praktik Bisnis

Ranisa Fried Chicken Masuk Kampus: Upaya Kenalkan Kewirausahaan Lewat Praktik Bisnis

Kampus selama ini identik sebagai ruang belajar. Namun, bagi sebagian pelaku usaha, lingkungan kampus juga mulai dipandang sebagai tempat memperkenalkan kewirausahaan kepada generasi muda. Fenomena itu salah satunya tampak melalui program Ranisa Fried Chicken Goes To Campus.

Pada 30 Januari 2024, Ranisa menggelar kegiatan di Universitas MH Thamrin, Jakarta Timur, dengan tema “Membangun Jiwa Wirausaha di Usia Muda.” Dalam agenda tersebut, Ranisa memberikan pemahaman mengenai bisnis ayam goreng (fried chicken), sementara mitra kolaborasinya mendukung aspek pemasaran dan distribusi.

CEO Ranisa Fried Chicken, Bisri Abdul Khair, turut menjadi pembicara. Program semacam ini mempertemukan dua ranah yang kerap berjalan terpisah, yakni pendidikan dan praktik bisnis.

Bagi mahasiswa, kewirausahaan tidak selalu harus diawali dengan membangun perusahaan besar. Proses mengenal bagaimana produk dibuat, bagaimana konsumen ditentukan, bagaimana pemasaran dilakukan, serta bagaimana operasional usaha dijalankan dapat menjadi bagian dari pembelajaran.

Model kemitraan juga memberi gambaran tentang cara masuk ke dunia usaha melalui sistem yang sudah tersedia. Ranisa, misalnya, menyediakan beberapa format usaha serta fasilitas berupa pelatihan dan konsultasi bagi mitra.

Meski demikian, memiliki akses terhadap model bisnis tidak serta-merta menjamin usaha dapat bertahan. Tetap dibutuhkan kemampuan membaca pasar, memilih lokasi, memberikan pelayanan, mengelola operasional, dan memahami konsumen.

Karena itu, pengenalan kewirausahaan di kampus dinilai tidak cukup berhenti pada ajakan menjadi pengusaha. Yang lebih penting adalah memperkenalkan cara berpikir wirausaha: melihat kebutuhan, menguji gagasan, menghitung risiko, serta memahami konsekuensi dari setiap keputusan.

Bagi perusahaan makanan, masuk ke kampus dapat menjadi cara mengenalkan bisnis secara lebih dekat kepada calon generasi pelaku usaha. Sementara bagi mahasiswa, pertemuan semacam ini membuka perspektif bahwa dunia kerja tidak hanya soal mencari pekerjaan, tetapi juga kemungkinan menciptakan pekerjaan—meski prosesnya memerlukan kesiapan, pengetahuan, dan keberanian mengambil risiko.

Pada akhirnya, pertanyaan yang mengemuka bukan semata apakah mahasiswa tertarik membuka usaha. Melainkan, sejauh mana kampus dapat menjadi ruang belajar sebelum seseorang benar-benar mengambil keputusan untuk terjun ke dunia bisnis.