BERITA TERKINI
Rangga Umar Ungkap Kunci Membangun Bisnis Kuliner Peceleleela dari Modal Rp3 Juta

Rangga Umar Ungkap Kunci Membangun Bisnis Kuliner Peceleleela dari Modal Rp3 Juta

Rangga Umar memulai langkahnya di bisnis kuliner pada 2006. Berbekal modal Rp3 juta, ia membuka warung pelecing sederhana di Bandung dengan memanfaatkan sewa tempat yang murah serta peralatan bekas. Ia mengaku terinspirasi dari kesuksesan Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo.

Sejak awal merintis, Rangga menggunakan “Dream Book”, buku yang ia isi dengan mimpi dan target yang ditulis secara spesifik. Salah satu target yang pernah ia tuliskan adalah rencana membuka 100 cabang dalam lima tahun. Menurutnya, menuliskan mimpi merupakan bentuk doa yang dapat memengaruhi arah hidup.

“Mimpi yang ditulis adalah salah satu bentuk doa. Kalau doa itu dulu saya anggap seperti ban serep, sekarang saya anggap seperti Google Maps,” ujar Rangga.

Dalam pandangannya, keberhasilan di bisnis kuliner tidak hanya bergantung pada rasa makanan. Ia menilai pelaku usaha juga harus menjual pengalaman menyeluruh kepada pelanggan, termasuk aspek emosional yang membuat konsumen merasa nyaman dan ingin kembali.

“Emotional benefit itulah yang akan diingat konsumen. Makanan enak sekarang banyak, tapi yang bisa memberikan pengalaman menyenangkan itu tidak banyak,” tegasnya.

Karena itu, Peceleleela disebut tidak sekadar menawarkan pelecing biasa. Rangga menyebut ada upaya menghadirkan variasi menu, penyajian yang menarik, serta pelayanan yang hangat sebagai bagian dari pengalaman pelanggan.

Di luar pengembangan bisnisnya, Rangga juga mendirikan “Kuliner Mastery”, yang ia sebut sebagai salah satu komunitas pengusaha kuliner terbesar di Indonesia. Komunitas ini dibentuk sebagai wadah belajar dan berbagi, sekaligus menjadi jaringan dukungan bagi para anggotanya.

Rangga turut menekankan pentingnya growth mindset dalam menjalankan usaha. Ia memandang kegagalan sebagai sesuatu yang tidak permanen, sementara yang menentukan adalah ketahanan dan kemauan untuk terus belajar.

“Tidak ada yang permanen, baik keberhasilan maupun kegagalan. Yang permanen adalah mindset kita: mau belajar atau menyerah,” pesannya.

Ia juga menilai skala bisnis sangat dipengaruhi oleh seberapa besar masalah konsumen yang mampu diselesaikan. Dalam konteks Peceleleela, upaya itu diarahkan pada keluhan yang umum ditemui di warung tenda, seperti kenyamanan, waktu tunggu, serta kepastian harga dan rasa.

Menurut Rangga, bisnis kuliner pada dasarnya tidak jenuh. Ia berpendapat yang bisa mengalami kejenuhan adalah pengusahanya apabila tidak memiliki visi atau cita-cita jangka panjang.

Di akhir, Rangga menyampaikan pesan tentang pentingnya investasi pada diri sendiri. Ia menilai ilmu pengetahuan merupakan aset yang dapat menjaga seseorang sepanjang hidup, melampaui kepemilikan harta benda.