Masalah stunting, yakni kondisi ketika pertumbuhan anak terhambat sehingga tinggi badannya lebih pendek dibandingkan anak seusianya, masih menjadi tantangan kesehatan serius di berbagai negara, termasuk Indonesia. Salah satu pemicu utamanya adalah gizi kurang, yaitu kondisi tubuh kekurangan asupan zat gizi—baik energi maupun protein—dalam jangka waktu lama yang dapat menghambat pertumbuhan, perkembangan, serta menurunkan daya tahan tubuh.
UPTD Puskesmas Un, Kota Tual, melakukan kunjungan ke Kelurahan Ketsoblak, Kecamatan Dullah Selatan, pada Sabtu (19/09/2026). Kegiatan berlangsung di rumah RT 016, Kompleks Kadmaer, kawasan Un, Jalan Taar Baru, dengan agenda sosialisasi kelas ibu balita.
Dalam sosialisasi tersebut, disampaikan sejumlah tanda yang dapat mengarah pada kondisi gizi kurang pada anak. Di antaranya berat badan tidak naik sesuai usia, tinggi badan lebih pendek dari teman sebaya, tampak kurus dan mudah lelah, wajah pucat, daya tahan tubuh menurun sehingga mudah sakit, serta konsentrasi belajar menurun.
Petugas juga memaparkan beberapa faktor yang dapat menyebabkan gizi kurang. Penyebabnya meliputi pola makan yang tidak seimbang, kurangnya asupan protein dan vitamin, infeksi penyakit seperti diare, ISPA, dan cacingan, kurangnya pengetahuan tentang gizi, serta kondisi ekonomi dan lingkungan yang kurang mendukung.
Untuk mencegah gizi kurang, masyarakat diingatkan pentingnya mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang mencakup karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Selain itu, ibu didorong memberikan ASI eksklusif dan melanjutkan dengan MP-ASI yang bergizi, melakukan pemantauan pertumbuhan anak secara rutin di posyandu atau puskesmas, menjaga kebersihan lingkungan dan makanan, serta memberikan vitamin dan obat cacing sesuai anjuran petugas kesehatan.
Dalam kegiatan itu juga ditekankan bahwa gizi baik bukan hanya penting untuk kebutuhan hari ini, tetapi juga menentukan masa depan anak. Kekurangan gizi disebut sebagai salah satu penyebab utama stunting, sehingga penanganannya memerlukan upaya komprehensif dan berkelanjutan dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, hingga masyarakat.