Rasa malas kerap dipahami sebagai tanda seseorang enggan bekerja atau kurang memiliki kemauan. Namun, psikolog menilai kondisi yang terlihat seperti kemalasan tidak selalu sesederhana itu. Dalam sejumlah kasus, “malas” bisa menjadi sinyal kelelahan, stres, kecemasan, atau tekanan berlebihan yang dialami seseorang.
Psikolog Devon Price menjelaskan, perilaku yang tampak seperti malas dapat dipengaruhi banyak faktor, termasuk kelelahan, kecemasan, hingga budaya yang menuntut orang untuk terus produktif. “Namun kenyataannya, tidak seorang pun akan memilih untuk gagal atau mengecewakan jika mereka bisa menghindarinya,” kata Price, dikutip dari Psychology Today, Sabtu (27/6/2026).
Menurut Price, apa yang sering disebut sebagai kemalasan justru dapat menjadi tanda bahwa seseorang membutuhkan istirahat, dukungan, atau cara kerja yang lebih sehat. Berikut sejumlah langkah yang disarankan psikolog untuk keluar dari rasa malas tanpa terus menyalahkan diri sendiri.
1. Berhenti langsung melabeli diri sebagai pemalas
Ketika sulit memulai pekerjaan, banyak orang spontan menilai dirinya malas. Padahal, penilaian itu belum tentu tepat. Cobalah menelaah apa yang sebenarnya terjadi: apakah tubuh sedang kelelahan, pekerjaan menumpuk, atau ada kecemasan terhadap tugas tertentu. Memahami akar masalah dinilai lebih membantu dibanding terus mengkritik diri sendiri.
2. Kenali kebutuhan tubuh untuk beristirahat
Di tengah budaya yang mengagungkan produktivitas, istirahat kerap dianggap sebagai kemalasan. Padahal, tubuh dan otak tetap memerlukan waktu pemulihan. Kurang tidur, bekerja tanpa jeda, atau berada dalam tekanan terus-menerus dapat membuat motivasi menurun dan konsentrasi terganggu. Memberi waktu istirahat bukan berarti menyerah, melainkan bagian dari menjaga kesehatan fisik dan mental.
3. Kurangi tuntutan untuk selalu sempurna
Perfeksionisme juga dapat membuat seseorang tampak malas karena cenderung menunda. Saat hasil kerja harus sempurna, seseorang bisa enggan memulai karena takut gagal atau tidak memenuhi harapan. Alih-alih menunggu momen yang dianggap ideal, mulailah dari langkah kecil. Menyelesaikan sebagian pekerjaan dinilai lebih baik daripada tidak memulai sama sekali.
4. Dengarkan apa yang sedang dirasakan
Rasa malas terkadang menjadi sinyal adanya kebutuhan emosional yang belum terpenuhi, seperti stres berkepanjangan, kelelahan, atau menurunnya motivasi akibat beban yang terlalu besar. Daripada memaksakan diri, luangkan waktu untuk mengenali perasaan yang muncul. Dengan memahami kondisi emosional, langkah penanganan bisa lebih tepat.
5. Jangan ukur nilai diri dari produktivitas
Price menilai banyak orang merasa berharga hanya ketika terus bekerja dan menghasilkan sesuatu. Pola pikir ini dapat memicu rasa bersalah saat beristirahat. Padahal, nilai seseorang tidak ditentukan oleh seberapa banyak pekerjaan yang diselesaikan dalam sehari. Memberi ruang untuk beristirahat, menikmati waktu luang, dan menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan mencapai target kerja.
Catatan
Rasa malas sesekali merupakan hal yang wajar dan tidak selalu menandakan masalah psikologis. Namun, bila kehilangan motivasi, sulit beraktivitas, atau kelelahan emosional berlangsung lama hingga mengganggu pekerjaan, hubungan, atau kehidupan sehari-hari, disarankan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan mental agar mendapat penanganan yang tepat.

