BERITA TERKINI
Promotor STIFIn di Bengkalis Bagikan Tips Memilih Strategi Bisnis Berdasarkan Lima Mesin Kecerdasan

Promotor STIFIn di Bengkalis Bagikan Tips Memilih Strategi Bisnis Berdasarkan Lima Mesin Kecerdasan

BENGKALIS — Memulai bisnis dinilai tidak selalu harus mengikuti tren. Sebagian orang merasa nyaman berjualan dan bertemu banyak pelanggan, sementara yang lain lebih menikmati mengatur angka, menyusun strategi, atau justru bersemangat ketika menemukan ide usaha baru.

Perbedaan cara bekerja itu menjadi salah satu hal yang dibahas dalam konsep STIFIn, yang membagi kecenderungan menjadi lima “mesin kecerdasan”: Sensing, Thinking, Intuiting, Feeling, dan Insting. Promotor STIFIn Bengkalis, Nabila Fitri, mengatakan mengenali kecenderungan tersebut dapat menjadi salah satu pertimbangan saat menentukan strategi bisnis.

“Setiap mesin kecerdasan punya kekuatan yang berbeda. Jadi tidak harus semua orang menjalankan bisnis dengan cara yang sama. Yang penting kita mengenali kekuatan diri dan mengoptimalkannya,” kata Nabila, Jumat, 25 September 2026.

Sensing: cocok pada bisnis konkret dan terukur
Nabila menjelaskan, tipe Sensing cenderung nyaman dengan hal yang konkret, praktis, dan dapat langsung dikerjakan. Dalam konteks bisnis, kecenderungan ini disebut dapat mendukung usaha yang membutuhkan konsistensi dan pengelolaan operasional.

Contoh bidang usaha yang disebut antara lain bisnis kuliner, toko sembako, pakaian, reseller produk, laundry, peternakan, hingga usaha distribusi.

“Bisnis yang produknya jelas, prosesnya bisa dilihat dan hasilnya bisa langsung dirasakan biasanya lebih mudah dikelola oleh orang yang nyaman dengan pola kerja konkret,” ujarnya.

Thinking: kuat pada angka dan strategi
Untuk Thinking, Nabila menyebut kecenderungan ini identik dengan logika, analisis, dan penyusunan strategi. Karena itu, jenis usaha yang membutuhkan perhitungan dan pengambilan keputusan dinilai dapat menjadi ruang untuk mengoptimalkan kekuatan tersebut.

Contohnya meliputi konsultan bisnis, jasa akuntansi, investasi, perdagangan, teknologi, jasa analisis data, maupun bisnis dengan sistem operasional dan target yang terukur.

“Thinking biasanya senang melihat angka, sistem dan bagaimana sesuatu bisa dibuat lebih efektif. Kekuatan ini bisa dimanfaatkan untuk menyusun strategi dan mengukur perkembangan bisnis,” kata Nabila.

Intuiting: mengandalkan ide dan inovasi
Berbeda dengan Intuiting yang cenderung tertarik pada ide, konsep, dan peluang baru. Nabila menilai bisnis yang memberi ruang kreativitas dan inovasi dapat menjadi salah satu pilihan bagi kecenderungan ini.

Sejumlah contoh yang disebut di antaranya bisnis digital, content creator, desain, pengembangan produk, branding, konsultan kreatif, startup, pelatihan, serta bisnis berbasis ide dan inovasi.

“Intuiting biasanya senang memikirkan sesuatu yang belum ada atau bagaimana sesuatu bisa dibuat berbeda. Jadi kekuatannya bisa diarahkan untuk mencari peluang dan menciptakan inovasi,” ujarnya.

Feeling: menonjol dalam relasi
Nabila menambahkan, Feeling cenderung kuat dalam membangun hubungan dan memahami orang lain. Dalam bisnis, kemampuan tersebut dinilai dapat menjadi modal untuk membangun kepercayaan dan komunitas.

Contoh usaha yang disebut meliputi bisnis jasa, konsultan, pendidikan, kecantikan, hospitality, event organizer, komunitas, penjualan berbasis relasi, serta bisnis yang membutuhkan pelayanan pelanggan secara intensif.

“Kalau bisnisnya banyak membutuhkan komunikasi dan hubungan dengan orang, kekuatan Feeling bisa sangat dimanfaatkan untuk membangun kedekatan dan kepercayaan pelanggan,” katanya.

Insting: fleksibel dan adaptif
Sementara itu, Insting disebut memiliki kecenderungan fleksibel dan mampu menyesuaikan diri dalam berbagai situasi. Menurut Nabila, hal ini dapat dimanfaatkan pada bisnis yang menuntut kemampuan menghadapi perubahan dan menjalankan berbagai peran.

Contoh yang disampaikan antara lain usaha kuliner yang mengikuti tren, reseller dengan berbagai produk, perdagangan, jasa serba bisa, bisnis online, serta usaha yang membutuhkan kemampuan beradaptasi dengan cepat.

“Insting biasanya lebih fleksibel menghadapi situasi. Ketika kondisi berubah, dia bisa menyesuaikan diri. Ini bisa menjadi kekuatan dalam bisnis yang dinamis,” ujar Nabila.

Tidak untuk membatasi pilihan bisnis
Meski memberikan contoh kecenderungan, Nabila menegaskan STIFIn tidak seharusnya dijadikan batasan yang mengotak-ngotakkan kemampuan seseorang.

“Jangan sampai STIFIn justru menjadi batasan. Misalnya saya Sensing, berarti saya tidak boleh melakukan bisnis yang membutuhkan kreativitas. Bukan begitu. Semua orang tetap bisa belajar,” tegasnya.

Menurutnya, mengenali mesin kecerdasan lebih tepat digunakan untuk memahami kekuatan diri. Setelah itu, pelaku usaha dapat menentukan strategi, membangun tim, serta membagi peran sesuai kebutuhan.

Nabila juga menekankan bahwa keberhasilan bisnis tetap membutuhkan proses belajar, disiplin, konsistensi, dan kemampuan beradaptasi.

“Kenali diri, manfaatkan kekuatan, tetapi tetap belajar kemampuan yang belum kita kuasai. Karena dalam bisnis kita tidak bekerja sendirian. Justru perbedaan karakter dalam tim bisa saling melengkapi,” pungkasnya.

Dengan memahami kecenderungan cara kerja masing-masing, pelaku usaha dinilai dapat memiliki pertimbangan tambahan dalam menentukan strategi bisnis—bukan untuk membatasi, melainkan untuk bekerja lebih sadar terhadap kekuatan yang dimiliki dan kemampuan yang masih perlu dikembangkan.