BERITA TERKINI
Promosi Makanan Instan Kian Gencar, Banyak Konsumen Abai Informasi Gizi di Kemasan

Promosi Makanan Instan Kian Gencar, Banyak Konsumen Abai Informasi Gizi di Kemasan

Usia pasien penyakit jantung dan obesitas di Indonesia disebut kian muda dari tahun ke tahun. Salah satu pemicunya adalah gaya hidup dan pola makan generasi masa kini yang serba instan dan praktis, termasuk kebiasaan mengandalkan makanan serta minuman kemasan di rumah.

Gencarnya promosi turut mendorong tingginya pembelian produk makanan instan. Berbagai penawaran seperti buy one get one free atau paket bundling dengan harga lebih murah kerap membuat konsumen terdorong membeli tanpa pertimbangan yang cukup. Dalam kondisi tersebut, keputusan membeli sering berangkat dari alasan “mumpung promo”, meski produk yang dibeli belum tentu dibutuhkan atau sesuai bagi konsumen.

Nur Fani Inaroh, misalnya, mengaku jarang memeriksa komposisi di bagian belakang kemasan ketika membeli camilan. “Jarang banget lihat komposisinya di belakang. Yang penting enak dan cocok saja,” ujarnya saat berbincang dengan Harian Disway pada Rabu, 30 September 2026. Ia juga menyebut dirinya termasuk konsumen yang setia pada satu produk.

Sementara itu, Fakhrie Abbie mengatakan minuman isotonik menjadi salah satu jajanan rutinnya. “Biasanya Mizone atau Pocari Sweat kalau setelah olahraga. Tapi, kalau sedang pengin saja,” katanya. Fakhrie menyadari kandungan gula pada minuman kemasan yang ia sukai tergolong tinggi, namun pengakuannya, hal itu jarang menjadi pertimbangan utama. “Kalau jajan makanan kemasan juga jarang lihat komposisinya di bagian belakang,” ungkapnya.

Kebiasaan Fani dan Fakhrie menggambarkan pola yang lebih luas di kalangan konsumen, yakni abai pada informasi gizi maupun komposisi yang tercantum pada kemasan. Keabaian ini disebut tidak sepenuhnya terjadi karena enggan membaca atau semata-mata kebiasaan buruk.

Dalam praktiknya, produsen kerap menempatkan konsumen pada posisi yang lemah. Salah satunya melalui penempatan informasi penting seperti kandungan gizi dan komposisi di bagian belakang kemasan, bukan di bagian depan yang lebih mudah terlihat. Selain itu, ukuran tulisan sering dibuat kecil demi pertimbangan visual dan estetika produk. Kondisi ini dinilai menunjukkan bahwa hak konsumen untuk memperoleh informasi yang layak mengenai kandungan gizi dan komposisi belum dianggap sebagai hal yang penting secara esensial.

Penelitian Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) dan CHeNECE Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair) menyebutkan, 9 dari 10 pangan kemasan di Indonesia tergolong tidak sehat apabila diukur menggunakan standar best practice internasional.