BERITA TERKINI
Program Makan Bergizi Gratis di SDN Gentan: Orang Tua Tenang, Siswa Lebih Fokus Belajar

Program Makan Bergizi Gratis di SDN Gentan: Orang Tua Tenang, Siswa Lebih Fokus Belajar

Pagi yang serba cepat kerap menjadi rutinitas banyak keluarga. Sebagian orang tua berangkat bekerja sebelum hari benar-benar terang, sementara anak-anak menuju sekolah dengan sarapan seadanya. Situasi itu juga dialami sebagian keluarga siswa SDN Gentan, Seyegan, Sleman.

Ketika Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hadir di sekolah, sejumlah orang tua merasakan dampaknya lebih dari sekadar tambahan makanan. Mereka merasa lebih tenang karena anak tetap memperoleh asupan gizi untuk menjalani kegiatan belajar.

Is Hartati (43), salah satu orang tua siswa, menilai MBG membantu menjawab persoalan sarapan di rumah. Ia mengatakan anaknya kerap hanya makan satu-dua suap saat pagi, namun program MBG membuat kebutuhan gizi anak lebih terbantu. Hartati juga mengaku senang karena menu yang disajikan dinilainya seimbang dan higienis.

Hartati menyoroti keberadaan buah yang rutin diberikan dalam menu MBG. Bagi keluarganya, buah menjadi tambahan asupan yang tidak selalu tersedia di rumah. Ia berharap hal itu mendukung tumbuh kembang putranya yang duduk di kelas V. Hartati juga menyampaikan apresiasi, terutama dari orang tua dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah.

Selain soal makanan, Hartati melihat kebiasaan baik yang berkembang di sekolah. Anak-anak mendapat giliran mengambil makanan sesuai jadwal piket, sehingga belajar tanggung jawab sejak dini.

Pengalaman serupa disampaikan Rosi Doniyati (40). Ia melihat perubahan pada anaknya yang kini lebih sering makan buah dan pulang sekolah dalam keadaan kenyang. Menurutnya, kondisi itu juga membuat uang saku anak lebih sering tersisa. Rosi menambahkan, selama pelaksanaan MBG anaknya yang duduk di kelas III tidak mengalami gangguan kesehatan akibat makanan yang diterima.

Meski merasakan manfaat, Hartati dan Rosi berharap program terus disempurnakan. Mereka mengusulkan porsi nasi ditambah, menu dibuat lebih variatif, serta pelaksanaan program dapat lebih merangkul pengusaha kecil di sekitar sekolah agar berdampak pada sektor ekonomi.

Dari sisi siswa, M. Aldiano Saputra atau Ando, siswa kelas V, mengatakan ia senang dengan MBG karena menurutnya enak, gratis, dan membuat kenyang. Ia menilai rasa kenyang membantu dirinya lebih fokus mengikuti pelajaran. Ando berharap program tersebut berlanjut.

Di SDN Gentan, MBG menjadi bagian dari keseharian sejak pertama kali diberikan pada 18 Agustus 2025. Koordinator MBG SDN Gentan, Wihandoko Suko Lelono, mengatakan program ini terutama bermanfaat bagi siswa yang berangkat tanpa sempat sarapan karena kesibukan orang tua pada pagi hari. Sebelum MBG berjalan, ia menyaksikan sebagian orang tua mengantarkan bekal menyusul ke sekolah ketika anak belum sempat makan.

Wihandoko juga melihat perubahan di ruang kelas. Menurutnya, anak-anak yang kebutuhan makan siangnya terpenuhi cenderung lebih siap mengikuti pelajaran, tidak mudah lelah, dan tidak mengantuk. Ia menyebut dampak terhadap prestasi akademik belum dapat dinilai dalam waktu singkat karena perkembangan tiap anak berbeda, namun ia menilai konsentrasi dan semangat belajar meningkat.

Pihak sekolah berharap MBG terus dilanjutkan. Selain membantu pemenuhan gizi, menu yang disusun berdasarkan rekomendasi ahli gizi dinilai menjadi nilai tambah bagi anak-anak selama masa pertumbuhan. Wihandoko menegaskan kondisi anak yang sehat dan tidak lapar membuat mereka tetap bersemangat mengikuti pelajaran.

Dalam konteks yang lebih luas, MBG dipandang sebagai upaya memastikan anak terbebas dari kelaparan dan gizi buruk agar memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat dan belajar optimal. Program ini disebut digagas Presiden Prabowo Subianto dengan tujuan meningkatkan status gizi, memperbaiki konsentrasi belajar, serta mendukung kesiapan anak mengikuti proses pendidikan.

Pengamat kebijakan publik Trubus Rahardiansah menilai pemenuhan gizi yang dikerjakan melalui MBG merupakan hal penting dalam mencetak “generasi merdeka”. Ia menceritakan pengalaman masa kecilnya yang penuh keterbatasan sehingga kerap harus berpuasa agar tetap bisa bersekolah. Menurutnya, program makan gratis menjadi sesuatu yang istimewa karena membantu memastikan anak bisa belajar dalam kondisi lebih baik.

Terkait variasi menu, Trubus menyarankan pemanfaatan kearifan lokal di tiap daerah. Ia menilai bahan pangan lokal seperti sagu atau talas dapat menjadi bagian dari pilihan menu, sekaligus menjaga kekhasan wilayah.

Trubus juga menekankan perlunya pengawasan pemerintah daerah agar pelaksanaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) berjalan lebih akuntabel, termasuk memastikan keterlibatan pelaku usaha lokal dalam rantai pasok. Menurutnya, kepala daerah dapat memastikan bahan baku berasal dari UMKM, koperasi, dan pemasok setempat agar manfaat ekonomi dirasakan masyarakat sekitar.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P. Sasmita turut menilai upaya pemenuhan gizi anak melalui MBG sebagai langkah tepat. Ia menyebut negara memiliki kewajiban konstitusional untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, terutama kelompok rentan. Ronny menilai MBG dapat menjadi instrumen afirmatif untuk menutup kegagalan pasar dalam distribusi pangan bergizi.

Ronny menegaskan gizi merupakan fondasi kualitas manusia. Menurutnya, tanpa intervensi gizi memadai, negara berisiko menghasilkan generasi dengan produktivitas rendah, beban kesehatan tinggi, dan daya saing lemah.

Berdasarkan data yang dikutip dari situs resmi Badan Gizi Nasional, hingga 3 Maret 2026 jumlah penerima manfaat program MBG tercatat mencapai 61.239.037 orang, dengan 49.057.682 di antaranya merupakan siswa sekolah. Data global World Food Programme (WFP) juga menunjukkan Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam jumlah penerima manfaat program makan sekolah, di bawah India dengan 118 juta penerima, dan berada di atas Brasil, China, serta Amerika Serikat.