PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) kembali menjalankan program JAPFA for Kids di Kabupaten Lampung Selatan pada 2026. Program ini menyasar 15 sekolah dasar dengan total 2.051 siswa dan 165 guru, melalui rangkaian edukasi gizi, pembiasaan hidup sehat, serta pendampingan untuk sekolah dan orang tua.
Pelaksanaan program tersebut menjadi bagian dari rangkaian Media Gathering Apresiasi Karya Jurnalistik JAPFA (AKJJ) 2026 yang mengangkat tema “18 Tahun JAPFA for Kids: Kolaborasi untuk Generasi Penerus Bangsa – Dari Data, Fakta, hingga Cerita Lapangan.” Dalam kesempatan itu, JAPFA mengajak insan media menyoroti perjalanan program yang telah berjalan selama 18 tahun dalam upaya peningkatan gizi dan kesehatan anak.
Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti, menyampaikan bahwa JAPFA for Kids ditujukan untuk membantu mengisi celah penanganan masalah gizi anak, khususnya pada usia sekolah dasar. Menurutnya, perhatian terhadap persoalan gizi sering terpusat pada pencegahan stunting, padahal masalah gizi dapat berlanjut setelah anak memasuki usia sekolah dan berisiko memengaruhi kesehatan hingga dewasa.
“Kalau masalah gizi tidak diselesaikan secara utuh, maka siklusnya bisa terus berulang. Anak yang mengalami masalah gizi saat usia sekolah bisa tumbuh menjadi remaja dan orang tua dengan kondisi gizi yang kurang baik. Karena itu, JAPFA for Kids hadir untuk membantu pemerintah mengisi celah yang masih ada, terutama pada kelompok usia sekolah dasar,” ujar Retno.
Provinsi Lampung tercatat menjadi bagian dari pelaksanaan program sejak awal. JAPFA for Kids pertama kali dijalankan di Lampung pada 2008 di Kabupaten Lampung Tengah dan Lampung Timur, menjangkau enam sekolah dengan 1.632 siswa. Program kemudian meluas ke sejumlah daerah, termasuk Lampung Selatan pada 2010, Tanggamus dan Pringsewu pada 2012, Pesawaran pada 2013, Lampung Timur pada 2015, Lampung Tengah pada 2016, serta kembali hadir di Lampung Selatan pada 2019.
Dengan pelaksanaan tahun ini, JAPFA for Kids disebut telah menjangkau 69 sekolah dan lebih dari 13.400 siswa di Provinsi Lampung. Kegiatannya antara lain edukasi empat pilar gizi seimbang, Hari Sehat JAPFA, edukasi konsumsi protein hewani, pemantauan status gizi siswa, pelatihan guru, hingga pendampingan sekolah untuk membangun kebiasaan hidup sehat sejak dini.
Social Investment Supervisor JAPFA, ST Khumaidah, menjelaskan bahwa pemeriksaan awal terhadap sekitar 2.051 siswa di 15 sekolah dasar di Lampung Selatan menemukan 159 siswa berada dalam kategori gizi kurang maupun gizi buruk. Ia menyebut temuan tersebut sejalan dengan kondisi nasional. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sebanyak 11 persen anak usia 5–12 tahun masih berada dalam kategori gizi kurang dan gizi buruk berdasarkan indikator Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U). Sementara pemantauan JAPFA di tujuh lokasi program sepanjang 2024 menunjukkan sekitar 10,1 persen siswa berada pada kondisi serupa.
“Persoalan malagizi masih ada dan membutuhkan upaya yang konsisten serta kolaboratif dari berbagai pihak,” kata Khumaidah.
Salah satu intervensi utama program adalah pemberian asupan protein hewani berupa telur kepada siswa penerima manfaat selama enam bulan. Telur didistribusikan dalam kondisi mentah, seminggu sekali sebanyak tujuh butir, agar orang tua dapat mengolahnya sesuai selera anak sekaligus terlibat dalam pemenuhan gizi keluarga. Khumaidah menekankan, intervensi ini tidak hanya berfokus pada pemberian telur, karena kebutuhan gizi anak tetap perlu dilengkapi dengan karbohidrat, sayur, dan buah.
JAPFA menyatakan tidak semua siswa yang teridentifikasi mengalami malagizi otomatis menjadi penerima manfaat. Pemberian intervensi dilakukan kepada siswa yang mendapat persetujuan orang tua. Menurut Khumaidah, sosialisasi kepada orang tua menjadi tahapan penting karena masih ada yang belum memahami definisi gizi kurang dan gizi buruk. Ia menambahkan, status gizi diukur melalui indikator antropometri seperti berat badan, tinggi badan, usia, dan jenis kelamin.
Dalam pelaksanaannya, program menerapkan pemantauan rutin untuk memastikan intervensi berjalan efektif. Selain memastikan telur dikonsumsi, pemantauan berat badan dan tinggi badan dilakukan secara berkala. Pengukuran awal (baseline), pertengahan (midline), dan akhir program (endline) dilakukan oleh tenaga kesehatan dari puskesmas. Untuk pemantauan bulanan, guru mendapat pelatihan agar mampu melakukan pengukuran sesuai standar.
JAPFA juga bekerja sama dengan puskesmas, dinas kesehatan, dan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) dalam pelatihan terkait gizi dan pengukuran antropometri bagi guru. “Jadi kami tidak asal menetapkan penerima manfaat. Semua dilakukan berdasarkan data dan pengukuran yang dilakukan tenaga kesehatan yang kompeten,” ujar Khumaidah.
Selain intervensi gizi, program menanamkan empat pilar gizi seimbang melalui pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat. Setiap pekan, sekolah peserta melaksanakan Hari Sehat JAPFA yang meliputi senam bersama, cuci tangan pakai sabun, pemeriksaan kebersihan kuku, edukasi kesehatan, pengukuran berat badan dan tinggi badan, hingga makan bekal bersama. Dalam kegiatan itu, siswa diajak memahami konsep gizi seimbang secara praktis melalui pemeriksaan isi bekal dari rumah.
Untuk mendukung pelaksanaan selama enam bulan, JAPFA menempatkan dua fasilitator khusus di Lampung Selatan. Pendampingan juga dilakukan kepada orang tua melalui pertemuan rutin bulanan untuk memantau perkembangan anak. Retno menyebut, sebagian orang tua awalnya menolak atau tidak percaya anaknya mengalami masalah gizi, namun kemudian lebih peduli setelah mendapat penjelasan dan memantau perkembangan secara berkala. Dalam komunikasi kepada orang tua, JAPFA menggunakan sistem warna: hijau untuk kondisi baik, kuning untuk perlu perbaikan, dan merah untuk membutuhkan perhatian lebih.
Pelaporan program didukung sistem digital melalui Google Form yang diisi guru setiap hari, mencakup konsumsi telur siswa, pelaksanaan Hari Sehat JAPFA, dan kehadiran peserta kegiatan. Jika seorang siswa tercatat tidak mengonsumsi telur sebanyak tiga kali dalam tujuh hari, sekolah dan orang tua diminta melakukan komitmen ulang. Di akhir program, pemeriksaan status gizi kembali dilakukan bersama puskesmas, serta digelar JAPFA for Kids Awards sebagai bentuk apresiasi bagi sekolah peserta.
Di Lampung Selatan, program juga menyelenggarakan seleksi pelatihan catur. Dari 15 sekolah peserta, sebanyak 94 siswa telah mengikuti tahap seleksi awal dan masih menjalani proses penilaian.
Secara nasional hingga 2026, JAPFA for Kids tercatat telah menjangkau 217.706 siswa, 14.713 guru, dan 1.308 sekolah di 106 kabupaten/kota pada 28 provinsi. Program juga melaporkan capaian perbaikan status gizi pada peserta. Pada 2024, sebanyak 762 dari 1.479 siswa yang sebelumnya mengalami gizi kurang dan gizi buruk meningkat menjadi gizi baik (51,5 persen). Sementara pada 2025, sebanyak 646 dari 1.034 siswa meningkat menjadi gizi baik (62,5 persen).
Pada 2026, JAPFA menargetkan 16.000 siswa di berbagai wilayah Indonesia mengikuti program, mulai dari Padang Pariaman di Sumatera Barat, Bintan, Lampung Selatan, hingga Sofifi di Maluku Utara.