KUdus – Program edukasi “Belanja Pinter Gizine Bener” menunjukkan bahwa pemenuhan gizi seimbang untuk keluarga tidak selalu membutuhkan biaya besar. Dengan anggaran Rp25 ribu, para buruh Djarum didorong untuk membuktikan bahwa belanja bahan pangan bergizi tetap bisa dilakukan secara terencana dan efektif.
Kegiatan yang digagas Bakti Sosial Djarum Foundation bersama Savoria ini berlangsung sepanjang Juli hingga Agustus 2026. Sekitar 2.500 karyawan Sigaret Kretek Tangan (SKT) terlibat di lima lokasi, yakni SKT Blolo, SKT Besito, SKT Tanjungkarang 1, SKT Tanjungkarang 2, dan SKT Garung.
Dalam program tersebut, peserta mendapat tantangan membeli bahan pangan di pasar sekitar brak dengan dana Rp25 ribu. Hasil belanja kemudian dinilai langsung oleh tim ahli gizi berdasarkan kelengkapan gizi seimbang, kreativitas memilih bahan pangan, serta efektivitas penggunaan anggaran.
Supervisor SKT Tanjungkarang 2, Agus Widianto, menilai kegiatan ini membantu karyawan memahami pentingnya memilih bahan makanan bergizi saat berbelanja. “Program Belanja Pinter Gizine Bener sangat bermanfaat bagi para karyawan. Mereka belajar membelanjakan penghasilannya secara bijak, bukan sekadar membeli apa yang diinginkan, tetapi juga mempertimbangkan kecukupan gizi keluarga. Pilihan belanja yang tepat akan sangat menentukan kualitas kesehatan keluarga,” ujarnya.
Program Director Bakti Sosial Djarum Foundation, Achmad Budiharto, mengatakan program ini dirancang agar peserta tidak hanya memahami teori gizi seimbang, tetapi juga mampu menerapkannya dalam keseharian. Menurutnya, kebiasaan memilih bahan makanan yang tepat menjadi langkah awal membangun keluarga sehat. “Ini adalah salah satu program edukasi yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga mengajarkan masyarakat membangun keluarga sehat melalui cara menyiapkan makanan bergizi untuk keluarga,” katanya.
Achmad menambahkan, manfaat program ini ditujukan untuk mendukung upaya pencegahan stunting sekaligus membangun budaya hidup sehat di lingkungan keluarga. Konsep yang digunakan adalah edukasi hingga eksekusi. Setelah menerima materi tentang gizi seimbang yang meliputi karbohidrat, protein hewani, protein nabati, sayuran, buah-buahan, dan susu, peserta langsung mempraktikkannya dengan belanja menggunakan dana yang disediakan. Seluruh hasil belanja diperiksa kembali oleh tim ahli gizi.
Senior Manager Bakti Sosial Djarum Foundation, David Setiadi, menyampaikan bahwa kesehatan keluarga berawal dari keputusan saat mengisi keranjang belanja. Peserta ditantang membeli bahan pangan yang memenuhi komponen gizi seimbang, lalu dinilai berdasarkan kelengkapan komponen gizi, pengetahuan peserta, serta efektivitas penggunaan anggaran. “Belanja Pinter Gizine Bener merupakan salah satu cara kami mengajak para karyawan memahami bahwa hidup sehat dimulai dari piring makan dan keputusan saat berbelanja,” ujarnya.
Selain praktik belanja, peserta juga mengikuti permainan edukatif bertema gizi seimbang. Mereka mendapat tantangan memasak hasil belanja bersama keluarga di rumah dan mengunggah hasilnya ke media sosial menggunakan tagar #BelanjaPinterGizineBener dan #GEMAS.
Sejumlah peserta mengaku program ini mengubah cara pandang mereka saat memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Peserta asal SKT Blolo, Siti Zahro, mengatakan sebelumnya ia berbelanja lebih banyak mengikuti keinginan keluarga. “Dulu saya belanja hanya mengikuti keinginan keluarga. Sekarang saya memahami bahwa setiap belanja harus memperhatikan kecukupan gizi agar kesehatan keluarga tetap terjaga,” tuturnya.
Kirana, peserta dari SKT Besito, juga menyampaikan pengalaman serupa. “Saya baru memahami bahwa belanja bukan sekadar membeli makanan yang diinginkan. Sekarang saya tahu komponen gizi yang harus dipenuhi sehingga lebih mudah menentukan apa yang harus dibeli di pasar,” katanya.
Salah satu peserta asal Desa Setrokalangan, Siti Fatimah, mencontohkan penerapan belanja bergizi dengan dana terbatas untuk keluarganya yang beranggotakan empat orang. Ia membeli beras sebagai sumber karbohidrat, ikan lele sebagai protein hewani, tahu dan tempe sebagai protein nabati, bayam, jeruk, kelengkeng, serta susu. Menurutnya, masih tersisa sekitar Rp1.500 yang digunakan untuk membeli bawang merah dan bawang putih. “Dengan Rp25 ribu ternyata bisa mencukupi kebutuhan makan satu kali untuk keluarga berisi empat orang. Saya sangat senang karena bisa belajar menyusun menu bergizi dengan anggaran terbatas,” ujarnya.
Seluruh hasil belanja peserta dievaluasi oleh tim ahli gizi berdasarkan kelengkapan gizi seimbang, kreativitas memilih bahan pangan, pemahaman mengenai nutrisi, dan efektivitas penggunaan dana. Program yang memasuki tahun kedua ini juga memberikan penghargaan berupa paket sembako kepada peserta dengan nilai terbaik, serta hadiah undian agar lebih banyak peserta merasakan manfaat kegiatan.