Polytron menggelar pelatihan bagi pelaku UMKM kuliner di Surabaya dengan menyoroti berbagai persoalan yang kerap membuat usaha sulit berkembang, mulai dari lemahnya sistem operasional, keterbatasan sumber daya manusia (SDM), hingga literasi keuangan. Kegiatan ini juga dibarengi peluncuran panduan berbasis data yang disusun bersama Populix.
Dalam pelatihan tersebut, Polytron dan Populix memperkenalkan “UMKM Handbook: Panduan UMKM Naik Level” yang merangkum kondisi pelaku usaha berdasarkan temuan lapangan. Salah satu hasilnya menunjukkan mayoritas UMKM masih berada pada fase perintis, dengan proporsi mencapai 80%. Kelompok ini disebut didominasi generasi muda yang terdorong semangat mandiri dan melihat peluang pasar, namun dinilai memiliki risiko karena fondasi usaha belum kuat.
Sejumlah tantangan utama yang disorot adalah sistem operasional yang belum tertata. Hampir separuh pelaku usaha masih mencatat transaksi secara manual, sehingga keputusan bisnis tidak berbasis data. Kondisi ini dinilai menyulitkan ketika usaha mulai ingin berkembang karena tidak memiliki pijakan pencatatan yang jelas.
Polytron juga menyoroti persoalan literasi keuangan. Banyak pelaku UMKM mengaku kesulitan mengakses pinjaman, namun temuan riset menunjukkan kendala tidak selalu semata pada lembaga keuangan. Sebagian pelaku usaha disebut belum memahami cara mengajukan kredit, sementara sebagian lainnya menghadapi keterbatasan akses ke institusi keuangan.
Dari sisi operasional harian, keterbatasan SDM menjadi tekanan besar. Data menunjukkan 67% usaha mikro dijalankan hanya oleh 1–2 orang. Situasi ini berpotensi menimbulkan masalah saat jam sibuk, seperti pelayanan melambat dan kualitas menurun, yang pada akhirnya dapat membuat pelanggan beralih.
Polytron menilai menaikkan harga bukan solusi utama karena konsumen sensitif harga masih mendominasi. Alternatif yang dinilai lebih realistis adalah peningkatan efisiensi kerja dan penggunaan perangkat yang sesuai kebutuhan usaha.
Dalam kegiatan ini, Polytron menawarkan perangkat usaha untuk mendukung operasional kuliner, antara lain chest freezer berkapasitas 100–300 liter untuk menjaga bahan baku, serta showcase berkapasitas besar untuk tampilan produk. Produk lain seperti dispenser, oven, dan rice cooker juga diperkenalkan sebagai penunjang aktivitas harian.
Perusahaan menekankan penggunaan alat yang tepat untuk menekan risiko biaya tersembunyi. Dalam riset yang dipaparkan, kerugian kerap muncul ketika perangkat cepat rusak akibat penggunaan yang tidak sesuai, yang berdampak pada biaya servis, kerusakan bahan baku, hingga terhentinya operasional.
Selain perangkat, Polytron membuka kelas edukasi gratis yang membahas penguatan sistem kerja dan pengelolaan SDM. Pelaku usaha juga disebut berpeluang mendapatkan dukungan promosi berupa video serta kunjungan food vlogger nasional bagi usaha yang berkembang pesat. UMKM binaan juga ditawari akses untuk mengikuti event besar melalui pembukaan booth guna memperluas pasar.
Berdasarkan riset tersebut, Polytron merumuskan empat pilar agar UMKM bisa naik level: konsep usaha yang jelas termasuk identitas dan pengalaman pelanggan; sistem kerja yang rapi dan mulai beralih ke digital; pemilihan aset dengan pertimbangan jangka panjang; serta ekspansi yang dilakukan tanpa mengganggu operasional yang sudah berjalan.
Dalam sesi pelatihan, Jessica Hartono, Founder Nichi Nichi by Farine, menekankan pentingnya membangun kepercayaan pelanggan. “Produk bisa ditiru, tapi rasa percaya (brand) tidak bisa digantikan,” ujarnya. Sementara itu, Radityo Suryo Hartanto mengingatkan peran identitas visual, termasuk kemasan, dalam membentuk persepsi pelanggan di tengah persaingan pasar yang padat.
Pengalaman Jessica turut disampaikan sebagai contoh perjalanan usaha dari dapur rumah hingga dikenal luas, dengan penekanan pada konsistensi nilai merek, tampilan visual, dan menjaga kepercayaan pelanggan. Melalui pelatihan dan panduan berbasis data ini, Polytron menilai pelaku UMKM kuliner dapat memiliki arah yang lebih terukur untuk memperbaiki cara kerja dan memperkuat bisnis dari sisi internal.

