BERITA TERKINI
Polytron dan Populix Rilis Handbook UMKM, Ungkap Mitos yang Kerap Menghambat Bisnis Kuliner Naik Level

Polytron dan Populix Rilis Handbook UMKM, Ungkap Mitos yang Kerap Menghambat Bisnis Kuliner Naik Level

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) disebut memiliki peran penting dalam menopang perekonomian Indonesia. UMKM tidak hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi juga menjadi sumber penghasilan masyarakat serta mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah.

Meski demikian, upaya UMKM untuk berkembang dinilai tidak selalu mudah. Sejumlah tantangan masih dihadapi pelaku usaha, mulai dari keterbatasan modal, pengelolaan keuangan yang belum optimal, pemasaran, legalitas usaha, hingga kemampuan memanfaatkan teknologi.

Dalam konteks itu, UMKM dinilai perlu didorong tidak hanya bertahan, tetapi juga “naik level”. Dorongan tersebut, menurut keterangan dalam kegiatan di Jakarta, dapat melibatkan berbagai pihak termasuk industri berskala besar.

Polytron menyatakan mempertegas komitmennya memberdayakan UMKM melalui program “UMKM Naik Level bareng Polytron”. Bersama platform riset Populix, Polytron meluncurkan UMKM Handbook: Panduan UMKM Naik Level yang memuat hasil riset mengenai kondisi dan tantangan pelaku UMKM, khususnya sektor kuliner di Indonesia.

Head of Public Communications Polytron, Vina Julita Wijaya, mengatakan banyak UMKM terhambat karena asumsi yang keliru. Karena itu, riset tersebut membongkar lima mitos yang dinilai kerap menghambat perkembangan UMKM. “Handbook ini secara tajam mematahkan 5 mitos utama, disandingkan langsung dengan fakta lapangan,” ujar Vina dalam kegiatan peluncuran hasil riset tersebut di Jakarta, Jumat (21/8/2026).

Mitos pertama, menurut Vina, adalah anggapan bahwa UMKM harus memiliki banyak cabang untuk berkembang. Ia menyebut ekspansi tanpa sistem dan standar operasional prosedur (SOP) yang kuat justru dapat meningkatkan risiko bisnis. Berdasarkan riset, 25 persen pelaku usaha menghadapi kendala karena sistem dan SOP belum tertata. Selain itu, 48 persen UMKM masih mencatat transaksi secara manual sehingga keputusan bisnis kerap dibuat berdasarkan intuisi dan menyulitkan proses ekspansi.

Mitos kedua adalah anggapan bahwa pinjaman modal sulit diperoleh. Vina menyampaikan, 32 persen pelaku usaha menyebut modal sebagai tantangan utama dan 50 persen mengaku kesulitan meminjam dana dari bank. Namun, ia menilai persoalan tersebut juga berkaitan dengan literasi keuangan. Riset mencatat 26 persen pelaku UMKM tidak memahami cara mengajukan pinjaman dan 19 persen tidak memiliki akses ke lembaga keuangan. Padahal, lembaga keuangan menilai kelayakan usaha berdasarkan data, termasuk laporan keuangan dan arus kas.

Sementara itu, mitos ketiga yang disoroti dalam riset adalah anggapan bahwa menaikkan harga produk menjadi solusi utama untuk meningkatkan keuntungan.