BERITA TERKINI
Peternak Lebah Bagikan Cara Membedakan Madu Murni dan Madu Oplosan

Peternak Lebah Bagikan Cara Membedakan Madu Murni dan Madu Oplosan

Madu yang beredar di pasaran tidak semuanya berasal dari hasil produksi lebah tanpa campuran. Selain madu murni, ada pula madu yang dicampur bahan lain, termasuk bahan sintetis seperti gula.

Peternak lebah di Eduwisata Lebah Madu, Desa Bojongmurni, kaki Gunung Pangrango, Iyan Supriyadi, menyebut setidaknya ada empat jenis madu yang kerap ditemui di pasaran, yakni madu murni, madu sintetis, madu oplosan, dan madu sirupan.

Menurut Iyan, membedakan madu murni dan jenis lainnya tidak selalu mudah. Ia menekankan bahwa penilaian tidak bisa hanya mengandalkan warna, aroma, tekstur, atau rasa. Pasalnya, jenis madu di Indonesia sangat beragam dengan karakteristik yang berbeda-beda, mulai dari warna gelap hingga cerah, konsistensi cair hingga kental, aroma tajam atau halus, serta rasa manis, asam, maupun pahit. Karena itu, tidak ada patokan tunggal, misalnya madu cair pasti palsu atau madu pahit pasti asli.

Meski demikian, Iyan membagikan beberapa cara sederhana yang bisa membantu membedakan madu murni dari madu yang terindikasi oplosan, sintetis, atau sirupan.

1. Kenali rasa dan aroma

Cara ini lebih efektif bagi orang yang sudah terbiasa mengonsumsi madu murni. Iyan mengatakan, lidah biasanya akan menolak ketika mengonsumsi madu yang terindikasi “SOS” (oplosan, sintetis, atau sirupan). Selain itu, aroma madu murni dinilai lebih mudah dikenali oleh mereka yang sudah terbiasa.

2. Uji dengan jari

Bagi yang belum terbiasa membedakan lewat rasa, Iyan menyarankan tes sederhana pada tekstur. Caranya, oleskan sedikit madu di telunjuk dan ibu jari, lalu gosokkan keduanya. Jika madu murni, teksturnya disebut akan terasa semakin kesat saat terus digosok. Ia juga menambahkan, madu asli kerap tampak seperti berminyak jika dilihat dengan mata.

3. Pastikan sumber madu

Menurut Iyan, cara paling akurat adalah memastikan asal madu yang dikonsumsi. Konsumen disarankan mengetahui madu tersebut berasal dari peternakan mana, jenis lebah yang memproduksi, serta pakan yang dikonsumsi lebah. Ia juga menyoroti kapasitas peternak, termasuk jumlah koloni lebah, untuk menilai kewajaran pasokan. Iyan mencontohkan, jika peternak hanya memiliki sekitar 10–15 koloni, perlu dipertanyakan apakah produksi tersebut dapat memenuhi permintaan pasar yang sangat tinggi. Dalam kondisi permintaan besar, ia menilai potensi praktik pengoplosan bisa terjadi.