Pelestarian kuliner tradisional dinilai tidak hanya bergantung pada pelaku usaha, tetapi juga membutuhkan keterlibatan generasi muda. Pandangan itu disampaikan Ida, pemilik usaha Prausan Ridho, saat mengembangkan kuliner khas Palembang yang ia jalankan sebagai bagian dari upaya meneruskan warisan keluarga.
Ida mengatakan usahanya tidak semata berorientasi bisnis. Ia menyebut produk yang dibuat merupakan warisan keluarga yang ingin dijaga keberlanjutannya hingga generasi berikutnya. Nama Prausan Ridho pun diambil dari nama anaknya sebagai simbol harapan agar usaha tersebut dapat diteruskan oleh keluarga.
“Harapannya nanti anak bisa meneruskan, bahkan membuka cabang di berbagai daerah,” kata Ida dalam dialog bersama Radio Republik Indonesia, Kamis, 16 April 2026.
Salah satu anaknya, Nyimas Nayzila, mulai terlibat dalam operasional usaha. Ia membantu berbagai kegiatan, mulai dari promosi hingga proses produksi dan pengemasan.
Menurut Ida, keterlibatan generasi muda penting untuk menjaga eksistensi kuliner tradisional. Kehadiran mereka dinilai dapat memperluas pasar melalui pendekatan yang lebih modern, tanpa mengabaikan ciri khas makanan yang dijaga turun-temurun.
Selain mempertahankan resep, Ida juga melakukan inovasi untuk menyesuaikan selera konsumen. Salah satunya dengan menambah variasi isian martabak, namun tetap menjaga cita rasa khas yang menjadi identitas produk.
Untuk menjaga kualitas, Prausan Ridho mempertahankan penggunaan bahan baku premium. Ida mengaku turun langsung memastikan kualitas bahan tetap terjaga. Seiring meningkatnya permintaan, distribusi produk juga mulai menjangkau luar daerah, dengan pengemasan vakum sebagai solusi agar makanan tetap aman selama pengiriman.
Meski permintaan meningkat, sistem produksi disebut masih berbasis pesanan. Langkah ini dilakukan agar kualitas makanan tidak menurun. Ida menekankan bahwa keberhasilan usaha kuliner, menurutnya, bertumpu pada konsistensi rasa, kebersihan, serta kepuasan pelanggan. Ia berharap kuliner khas Palembang semakin dikenal secara nasional.

