Seorang Head of Media di perusahaan makanan dan minuman segmen bakery membagikan pengalaman pertamanya menjadi pembicara radio dalam program Muda Kreatif di RRI Pro 2 FM Pekanbaru. Dalam kesempatan itu, ia menekankan bahwa branding yang kuat dibangun dari kejujuran menampilkan nilai asli perusahaan, bukan semata mengejar tampilan konten yang estetik atau angka penonton di media sosial.
Dalam siaran tersebut, ia hadir bersama rekan kerjanya, Adi Candra selaku Area Manager Rotte Ragam Rasa (Rotte Bakery). Keduanya dipandu oleh host bernama Tifa. Mereka membahas topik yang dinilai relevan bagi pelaku usaha dan anak muda yang merintis karier, yakni posisi branding, marketing, dan pelayanan dalam membangun bisnis yang berkelanjutan.
Ia menceritakan suasana pertama kali mengudara dari studio RRI, mulai dari duduk di ruang siaran berdinding kaca, penggunaan mikrofon dan headphone, hingga rasa gugup yang bercampur antusias. Sebelum siaran, tim RRI mengarahkan narasumber ke ruang tunggu sebelum masuk ke ruang studio on-air.
Saat siaran dimulai, pertanyaan awal yang diajukan host berkaitan dengan aktivitas hariannya sebagai Head of Media di Babada Corp. Pertanyaan itu membawanya pada pengalaman mengelola komunikasi untuk unit-unit bisnis perusahaan, termasuk jaringan toko roti Rotte Ragam Rasa, restoran Inspira Today, serta pabrik Rotte Factory Indonesia.
Di hadapan pendengar, ia menjelaskan perbedaan mendasar antara branding dan marketing. Menurutnya, promosi atau diskon dalam marketing cenderung berdampak sesaat, sementara branding merupakan investasi jangka panjang untuk menancapkan persepsi positif di benak masyarakat. Ia menegaskan, branding tidak berhenti pada produksi konten, melainkan berangkat dari kejujuran dalam menampilkan nilai dan identitas perusahaan.
Pembahasan juga menyentuh integrasi antara branding, marketing, pelayanan, serta nilai spiritual dalam bisnis kuliner. Ia menyampaikan keyakinan bahwa keberlanjutan usaha jangka panjang tidak hanya ditopang strategi bisnis, tetapi juga konsistensi menjalankan nilai yang diyakini dalam praktik sehari-hari.
Dalam sesi tersebut, Adi Candra turut menguraikan penerapan nilai perusahaan di lapangan. Ia mencontohkan kebiasaan staf kasir di toko yang mendoakan pelanggan secara tulus setelah transaksi, termasuk mendoakan keselamatan perjalanan dan kelancaran rezeki.
Bagi pembicara, kesempatan menjadi narasumber radio juga menjadi ruang refleksi untuk menilai sejauh mana nilai-nilai bisnis benar-benar dijalankan, bukan sekadar disampaikan. Ia menutup pemaparannya dengan menegaskan kembali bahwa kekuatan branding berakar pada keaslian nilai yang dihidupi perusahaan.