Jahe selama ini dikenal luas sebagai bumbu dapur dan bahan minuman tradisional. Namun, sejumlah temuan penelitian menunjukkan rempah ini juga berpotensi membantu mengontrol kadar gula darah, terutama pada penderita diabetes tipe 2.
Selama ini, kayu manis kerap disebut sebagai rempah yang dapat membantu menjaga kadar gula darah. Kini, jahe mulai mendapat perhatian karena kandungan senyawa aktifnya yang dinilai dapat mendukung sensitivitas insulin dan metabolisme glukosa.
Menurut laporan EatingWell, jahe mengandung gingerol dan berbagai polifenol yang diketahui memiliki sifat antiinflamasi. Hal ini menjadi perhatian peneliti karena peradangan dikaitkan dengan resistensi insulin, yaitu kondisi ketika sel-sel tubuh tidak merespons insulin secara optimal.
Resistensi insulin dapat membuat glukosa lebih sulit masuk ke dalam sel, sehingga kadar gula darah berpotensi meningkat. Kanchan Koya, Ph.D., penulis buku Spice Spice Baby, menyebut senyawa dalam rempah seperti jahe berpotensi membantu melawan peradangan. Meski demikian, ia menekankan bahwa penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk memastikan seberapa besar pengaruhnya terhadap pengendalian gula darah.
Selain itu, penting dipahami bahwa hasil penelitian mengenai suplemen jahe tidak serta-merta membuktikan konsumsi jahe sebagai bumbu masakan memberikan efek yang sama.
Sejumlah studi telah mengevaluasi hubungan konsumsi jahe dengan pengendalian gula darah. Salah satunya tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan dalam jurnal Nutrients pada 2024. Kajian tersebut menilai pengaruh berbagai rempah dan herba yang umum digunakan dalam pola makan Mediterania terhadap sejumlah indikator kesehatan metabolik.
Dalam analisis itu, rempah yang ditelaah mencakup jahe, kayu manis, kunyit, saffron, jintan hitam, cengkih, rosemary, serta beberapa bahan lainnya.