BERITA TERKINI
Pemkot Samarinda Siapkan Kawasan Kuliner Tepi Sungai Karang Mumus

Pemkot Samarinda Siapkan Kawasan Kuliner Tepi Sungai Karang Mumus

Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda melanjutkan program normalisasi Sungai Karang Mumus (SKM) dengan menyiapkan penataan kawasan bantaran sungai. Sejumlah area yang telah dibebaskan direncanakan dikembangkan menjadi pusat kuliner yang menghadap langsung ke sungai.

Asisten II Sekretariat Daerah (Setda) Pemkot Samarinda, Marnabas Patiroy, mengatakan normalisasi SKM dilakukan secara bertahap. Sejumlah bangunan di kawasan yang menjadi sasaran penataan disebut sudah dipindahkan, sementara data terbaru mengenai bangunan yang masih akan direlokasi berada di Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim).

“Program itu tentu akan terus kita buat. Kalau untuk berapa yang rencananya akan dipindahkan, saya belum update betul datanya. Yang jelas datanya sudah ada di Perkim dan tinggal sedikit, tidak terlalu banyak di sekitar itu,” ujar Marnabas saat ditemui, Selasa (22/9/2026).

Menurut Marnabas, penataan tidak berhenti pada pembebasan lahan dan normalisasi aliran sungai. Pemkot ingin kawasan yang telah ditata dapat menjadi ruang publik yang juga memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

Salah satu konsep yang disiapkan adalah kawasan kuliner yang memanfaatkan tepian SKM sebagai daya tarik. Nantinya, area tersebut diharapkan menjadi tempat pelaku usaha kuliner berjualan dengan orientasi bangunan atau tempat makan menghadap ke sungai.

“Yang sudah kita pindahkan itu mau kita sulap menjadi daerah kuliner. Kan selama ini penjual makanan seperti nasi kuning menghadap jalan, kita mau ubah nanti supaya mengembangkan ke Sungai Karang Mumus, sehingga mereka bisa menghadap sungai,” katanya.

Konsep ini diharapkan membuat kawasan SKM tidak hanya berfungsi sebagai bagian dari sistem pengendalian banjir, tetapi juga menjadi ruang aktivitas ekonomi dan destinasi kuliner baru di Samarinda. Pemkot melihat potensi kuliner lokal sebagai salah satu daya tarik yang dapat dikembangkan di sepanjang kawasan tersebut.

Marnabas mencontohkan kawasan Jalan Lambung Mangkurat yang selama ini dikenal sebagai salah satu lokasi kuliner yang kerap dikunjungi masyarakat maupun tamu dari luar daerah. “Jadi nanti terpusat di situ. Sekarang kan kalau ada turis, artis dan tamu dari luar kaltim datang ke Samarinda, senangnya di Lambung Mangkurat makan,” ujarnya.

Rencana tersebut sejalan dengan penataan kawasan SKM yang terus berjalan. Wali Kota Samarinda Andi Harun sebelumnya menyatakan normalisasi SKM di sektor Kelurahan Pelita dan Sidomulyo dijadwalkan berlanjut pada November 2026. Anggaran untuk pekerjaan tersebut disebut telah disiapkan dalam tahun anggaran berjalan.

Sebelumnya, Pemkot Samarinda mencatat sekitar 500 bangunan di sepanjang bantaran SKM telah dibebaskan untuk mendukung program normalisasi dan penataan sungai. Bangunan yang telah dibebaskan tersebar di sejumlah titik, termasuk Jalan Dr Sutomo, belakang Pasar Segiri, Jalan Tarmidi, kawasan Gunung Lingai hingga Betapus.

Marnabas menegaskan, kawasan yang telah dibebaskan diharapkan memberi manfaat lebih luas dan tidak dibiarkan menjadi lahan kosong setelah proses normalisasi. “Jadi bukan hanya dipindahkan, kemudian selesai. Kita mau kawasan itu nanti mempunyai fungsi. Salah satunya kita arahkan menjadi kawasan kuliner sehingga masyarakat juga mendapatkan manfaat dari penataan tersebut,” katanya.

Ia menambahkan, konsep kuliner tepian sungai masih dalam tahap pengembangan dan akan disesuaikan dengan penataan kawasan secara keseluruhan. Pemerintah juga perlu memastikan kegiatan ekonomi tersebut tetap mendukung fungsi utama SKM sebagai bagian dari sistem pengendalian banjir.

Marnabas berharap konsep kuliner di tepian SKM dapat mengangkat makanan khas daerah sekaligus menciptakan ruang baru bagi pelaku usaha lokal. “Intinya kita ingin ini bukan hanya dinormalisasi, tetapi juga ditata. Masyarakat bisa menikmati sungainya dan kegiatan ekonominya juga bisa tumbuh di sana,” pungkasnya.