BERITA TERKINI
Kementerian Ekraf Ikut CBE 2026 untuk Perluas Pasar Jenama Kopi dan Cokelat Lokal

Kementerian Ekraf Ikut CBE 2026 untuk Perluas Pasar Jenama Kopi dan Cokelat Lokal

Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kementerian Ekraf) mendorong pengembangan subsektor kuliner agar semakin kompetitif di pasar domestik dan internasional melalui partisipasi dalam Cafe & Brasserie Expo (CBE) 9th Edition 2026. Pameran tersebut digelar di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2.

Melalui Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain, Kementerian Ekraf menghadirkan Pavilion Ekraf sebagai upaya memperluas akses pasar, memperkuat jejaring bisnis, serta meningkatkan daya saing jenama kuliner lokal, khususnya produk berbasis kopi dan cokelat. Keikutsertaan ini juga menjadi bagian dari pembukaan peluang bisnis bagi pelaku usaha binaan program Akselerasi Ekspor Kreasi Indonesia (ASIK) Kuliner Batch 2 dan Batch 3.

Sejumlah jenama yang tampil di Pavilion Ekraf antara lain Kingkaf, Aricafe, L’ile Chocolate, dan Cokelatin Signature. Kegiatan ini turut melibatkan dua mitra strategis, yakni Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) dan Persekutuan Perkumpulan Profesional Investor Kopi Indonesia (PAPIKI).

Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekraf, Yuke Sri Rahayu, menilai subsektor kuliner berperan penting dalam memperkenalkan identitas budaya Indonesia sekaligus berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional. Ia menekankan perlunya pengembangan potensi kuliner agar tidak hanya dikenal sebagai produk konsumsi, tetapi memiliki nilai tambah melalui kreativitas, penguatan merek, dan perluasan pemasaran.

“Kuliner bukan sekadar produk yang dikonsumsi, tetapi merupakan bagian dari identitas, kreativitas, dan kekuatan ekonomi Indonesia. Karena itu, tugas kita adalah memastikan kreativitas yang lahir dari pelaku kuliner dapat berkembang menjadi produk yang bernilai tambah, memiliki jenama yang kuat, dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas,” ujar Yuke.

Kopi dan cokelat menjadi fokus kegiatan karena dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui hilirisasi kreatif. Kementerian Ekraf mendorong pelaku usaha agar tidak hanya bergantung pada penjualan bahan baku, melainkan mengolahnya menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Upaya tersebut mencakup peningkatan kualitas produk, pengembangan desain kemasan, penguatan identitas merek, penyusunan narasi produk, hingga penciptaan produk turunan yang dinilai memiliki keunikan dan daya tarik.

Presiden Direktur Panorama Media, Royanto Handaya, menyambut baik keterlibatan Kementerian Ekraf dalam CBE 2026. Ia menilai Pavilion Ekraf berpotensi menjadi penghubung antara pelaku usaha binaan dengan jaringan bisnis, mitra potensial, dan investor. Royanto berharap pavilion ini tidak hanya menjadi ruang pamer produk, tetapi juga menghasilkan peluang kemitraan serta transaksi yang berdampak langsung bagi peserta.

“Kehadiran Pavilion Ekraf diharapkan tidak hanya menjadi ajang pameran, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi terciptanya kemitraan bisnis dan transaksi nyata bagi para pelaku ekonomi kreatif binaan. Dengan dukungan pemerintah, penyelenggara, dan pelaku industri, Pavilion Ekraf dapat menjadi platform strategis untuk meningkatkan visibilitas produk lokal, membuka peluang usaha, serta mendorong produk kreatif Indonesia agar semakin kompetitif di pasar nasional maupun global,” ungkap Royanto.

Sementara itu, Direktur Kuliner Kementerian Ekraf, Romi Astuti, menyatakan bahwa partisipasi dalam pameran berskala internasional seperti CBE merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun bisnis kuliner yang berkelanjutan sekaligus berpeluang ekspansi. Kementerian Ekraf menargetkan semakin banyak jenama lokal yang dapat memperkuat posisi di pasar dalam negeri, mengembangkan kemitraan, serta memperluas bisnis melalui skema waralaba dan penetrasi pasar internasional.

“Ke depan, kita ingin semakin banyak jenama kuliner Indonesia yang tidak hanya kuat di pasar domestik, tetapi juga siap direplikasi, dikembangkan melalui kemitraan dan franchise, serta memiliki peluang untuk masuk ke pasar internasional. Inilah yang kami maksud dengan membawa kuliner Indonesia dari produk menjadi aset ekonomi kreatif,” kata Romi.

Dampak pendampingan program ASIK juga disampaikan pelaku usaha. Perwakilan Cokelatin Signature, Irena Surosoputra, mengatakan program tersebut memberikan pengetahuan dan pengalaman praktis untuk menjangkau calon pembeli, baik melalui skema business-to-business (B2B) maupun business-to-consumer (B2C). Ia menilai pembekalan yang diterima tidak hanya bersifat teori, tetapi juga praktik mencari calon pembeli secara efektif melalui platform digital.

“Dalam ASIK kami belajar banyak hal, bukan hanya di sisi teori, tapi praktik bagaimana cara mencari buyer yang efektif melalui web. Semoga dari event ini kami bisa mendapatkan banyak peluang baik B2C maupun B2B yang siap berjalan bersama membangun pasar cokelat Indonesia lebih luas lagi,” ujar Irena.

Melalui partisipasi di CBE 2026 dan pendampingan program ASIK Kuliner, Kementerian Ekraf berupaya memperkuat rantai nilai subsektor kuliner dari pengembangan produk hingga pemasaran. Langkah ini diharapkan meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, memperluas kesempatan usaha, serta mendorong jenama kopi dan cokelat Indonesia agar semakin dikenal dan mampu bersaing di pasar global.