Saumlaki, Kabupaten Kepulauan Tanimbar—Seorang pemilik usaha kuliner di Saumlaki, Nasri, mengaku mengalami tekanan dan intimidasi setelah mempekerjakan seorang bartender bernama Fikli di rumah makannya, Nass Coffee. Menurut Nasri, tekanan itu datang dari sejumlah pihak yang meminta agar Fikli tidak lagi bekerja di tempatnya, bahkan diminta meninggalkan Saumlaki.
Nasri menuturkan, Fikli merupakan eks bartender rumah makan Tiga Koki di Jalan Poros. Setelah sempat meninggalkan Saumlaki dan kembali ke kampung halamannya di Manado, Fikli kemudian kembali atas ajakan Nasri dan mulai bekerja di Nass Coffee sejak 1 Juni 2025. Namun, Nasri menyebut persoalan mulai muncul sekitar sepekan setelah Fikli bekerja.
Nasri mengaku sempat dijemput oleh seorang pria bernama Koko Ai, bersama sopirnya, untuk berbicara empat mata di dalam mobil. Dalam percakapan itu, Nasri mengatakan Koko Ai menyampaikan bahwa Fikli tidak boleh lagi bekerja di Nass Coffee dan diminta keluar dari Saumlaki.
“Dia bilang Fikli tidak boleh lagi bekerja di sini. Bahkan harus keluar dari Saumlaki,” kata Nasri saat ditemui di kediamannya.
Nasri menyatakan terkejut karena, menurutnya, Fikli keluar dari Tiga Koki atas kehendaknya sendiri. Ia menegaskan tidak ada pihak yang menghasut Fikli untuk meninggalkan tempat kerja sebelumnya. “Tidak ada yang menghasut. Fikli sendiri yang memilih kembali ke Manado, lalu saya minta dia kerja lagi di sini,” ujarnya.
Tekanan, menurut Nasri, berlanjut sekitar sepekan kemudian. Ia mengaku menerima telepon dari Latoy, seorang pengusaha asal Buton. Keduanya kemudian bertemu pada malam hari di Nass Coffee. Dalam pertemuan itu, Nasri menyebut Latoy menyampaikan adanya keresahan dari pihak yang disebut sebagai “atas”, merujuk pada manajemen Tiga Koki, yang merasa terganggu dengan keberadaan Fikli.
Nasri menirukan pernyataan Latoy, “su tahu toh, jangan sampe jadi hal-hal yang tidak diinginkan. Mereka punya uang dan kekuasaan.”
Nasri mengatakan puncak tekanan terjadi pada Jumat malam, 20 Juni. Ia mengaku dipanggil ke rumah Latoy dan bertemu Lamena, yang disebutnya sebagai tokoh Buton yang dikenal di kalangan pelaku usaha lokal. Dalam pertemuan itu, Nasri menyatakan Lamena menyampaikan agar Fikli diberhentikan pada keesokan harinya, Sabtu, 21 Juni. Jika tidak, Nasri mengaku usahanya disebut bisa “bermasalah”.
“Lamena bilang, ini cuma nasihat orang tua. Tapi nadanya seperti ultimatum. Saya takut,” tutur Nasri.
Nasri menilai situasi tersebut membuatnya merasa tidak aman. Ia mengatakan dirinya hanya ingin menjalankan usaha dengan tenang, namun tekanan yang diterimanya membuat persoalan ini tidak lagi sekadar persaingan bisnis. “Saya hanya ingin jalankan usaha dengan tenang. Ini sudah bukan soal dagang, ini sudah seperti teror,” ucapnya.
Hingga berita ini diturunkan, redaksi masih berupaya menghubungi pihak-pihak yang disebut Nasri—Koko Ai, Latoy, dan Lamena—untuk mendapatkan tanggapan guna menjaga keberimbangan informasi.

