Singkong yang selama ini lekat sebagai pangan sederhana mulai didorong menjadi produk kuliner bernilai ekonomi sekaligus atraksi wisata. Upaya tersebut dilakukan melalui pelatihan dan pendampingan pengolahan kuliner tradisional di Kalurahan Sumberagung, Kapanewon Moyudan, Sleman, yang digelar Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman pada 21–23 Juli 2026 di Taman Sendang Bandung.
Dalam kegiatan itu, 30 peserta yang terdiri dari pengelola desa wisata, Pokdarwis, pelaku UMKM, serta warga setempat dibekali kemampuan mengolah potensi lokal menjadi sajian unggulan. Pelatihan diarahkan untuk memperkuat identitas kuliner wilayah Sleman Barat sekaligus meningkatkan daya saing produk bagi pasar wisata.
Materi pelatihan mencakup teori gastronomi dan pengenalan kekayaan kuliner tradisional, disertai inovasi agar makanan lokal tetap diminati wisatawan. Peserta juga mempelajari teknik pengolahan serta modifikasi resep sehingga tampilan produk lebih menarik tanpa menghilangkan cita rasa khas.
Praktik langsung menjadi bagian penting dalam pelatihan ini. Singkong diolah menjadi beragam produk, antara lain donat singkong, bolu singkong ketan, dan keripik balado cabai hijau. Melalui proses tersebut, peserta mendapatkan pengalaman mengenai tahapan produksi, standar kualitas, serta peluang menjadikan produk sebagai sajian khas maupun oleh-oleh desa wisata.
Untuk memperkaya pembelajaran, peserta mengikuti kunjungan lapangan ke Carica Gemilang di Wonosobo. Dalam kunjungan itu, mereka melihat contoh pengembangan komoditas lokal hingga menjadi produk unggulan yang dikenal luas, sekaligus mempelajari strategi pengolahan, pengemasan, dan pemasaran agar produk berbasis singkong memiliki nilai tambah bagi masyarakat.
Program pelatihan ini merupakan Pokok Pikiran DPRD Kabupaten Sleman dari Untung Basuki Rahmat yang diwujudkan melalui Dinas Pariwisata. Kegiatan tersebut diposisikan sebagai bagian dari pemberdayaan masyarakat dalam pengembangan pariwisata berbasis komunitas, dengan tujuan agar desa wisata tidak hanya menawarkan panorama alam dan budaya, tetapi juga pengalaman autentik melalui cita rasa lokal.
Melalui pelatihan ini, singkong yang sebelumnya kerap dipandang sebagai pangan kelas bawah didorong menjadi bahan baku kuliner unggulan. Transformasi tersebut diharapkan memperkaya atraksi wisata sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan warga melalui produk kuliner yang lebih inovatif dan siap bersaing di pasar wisata.