BERITA TERKINI
Pelaku Usaha Kuliner di Padang Beralih ke Budidaya dan Marinasi Lele untuk Bertahan

Pelaku Usaha Kuliner di Padang Beralih ke Budidaya dan Marinasi Lele untuk Bertahan

PADANG — Perubahan kebutuhan konsumen mendorong pelaku usaha kuliner mencari peluang baru agar usaha tetap bertahan dan berkembang. M. Irsyad, pemilik Dapur Rasya, memilih beralih dari usaha jajanan ke budidaya sekaligus pengolahan ikan lele.

Irsyad merintis usahanya sejak 2017 dengan berjualan takoyaki di kawasan Pantai Padang. Seiring waktu, produk yang dipasarkan berkembang, antara lain dengan menghadirkan jajanan khas berbahan tepung pulut dan kolak pario yang dijual langsung kepada masyarakat.

Pandemi COVID-19 menjadi salah satu periode tersulit karena aktivitas masyarakat menurun dan permintaan terhadap produk kuliner ikut melemah. Irsyad mengatakan produksi saat itu berkurang, sehingga usahanya sempat diselingi dengan berjualan pakaian secara online. “Waktu itu usaha kami juga ikut terdampak, produksi menjadi lebih sedikit, sehingga kami selingi dengan berjualan pakaian secara online,” ujarnya, Senin, 5 Oktober 2026.

Setelah kondisi kembali normal, Irsyad mulai mengembangkan peluang baru melalui budidaya lele pada akhir 2023. Usaha ini bermula dari satu kolam dengan sekitar seribu bibit. Seiring meningkatnya permintaan, jumlah kolam terus bertambah hingga kini mencapai sembilan kolam.

Dalam budidayanya, waktu pemeliharaan diatur secara bertahap agar masa panen tiap kolam tidak terjadi bersamaan. Dari bibit hingga siap panen, lele membutuhkan waktu sekitar dua setengah hingga tiga bulan. Perawatannya dinilai relatif mudah karena lele memiliki daya tahan yang cukup baik.

Hasil budidaya tidak hanya dijual dalam kondisi segar. Sejak pertengahan 2025, Irsyad juga mengembangkan produk lele marinasi untuk menawarkan pilihan yang lebih praktis bagi konsumen. “Kami melihat peluang, selain menjual lele basah, kenapa tidak mencoba membuat lele marinasi yang lebih praktis untuk konsumen,” katanya.

Pengembangan budidaya lele turut membuka peluang pasar yang lebih luas karena hasil panen mulai dimanfaatkan untuk pasokan kebutuhan program nasional. Namun, dengan jumlah kolam yang ada saat ini, kapasitas produksi masih terbatas. Irsyad menilai dibutuhkan sedikitnya 15 kolam untuk memenuhi kebutuhan pasokan, sekaligus membuka ruang pengembangan usaha ke depan.