BANDUNG – Upaya memperkuat pelaku usaha di daerah terus dilakukan melalui berbagai inisiatif yang menyasar langsung komunitas bisnis di luar pusat ekonomi nasional. Di tengah tantangan perlambatan ekonomi, sektor kuliner, horeca, dan UMKM dinilai masih menjadi penopang penting pertumbuhan, khususnya di Jawa Barat.
Dalam konteks tersebut, konsep pameran bisnis yang mendekatkan layanan serta teknologi kepada pelaku usaha di daerah dinilai kian relevan. Project Manager PT Indorich Expo Utama, Hizkia Wiranata Sembiring, mengatakan tidak semua pelaku usaha memiliki akses yang sama untuk menghadiri pameran berskala besar di Jakarta. Karena itu, pendekatan “jemput bola” dipilih agar pelaku usaha di daerah memiliki kesempatan yang setara untuk berkembang.
“Kami melihat bahwa pameran di Jakarta memang banyak, tetapi tidak semua pelaku usaha daerah bisa datang ke sana. Maka kami hadir di berbagai kota, termasuk Bandung, untuk memperlengkapi pelaku usaha lokal,” ujar Hizkia, Jumat (13/02/2026).
Bandung disebut menjadi salah satu kota yang konsisten menjadi tuan rumah kegiatan tersebut. Tahun ini menandai penyelenggaraan ke-11 di Bandung, yang menurut Hizkia turut mencerminkan besarnya potensi sektor kuliner di Jawa Barat.
Ia menilai UMKM kuliner terbukti tangguh, termasuk pada masa pandemi. “Ketika banyak sektor terdampak, kuliner—khususnya UMKM—menjadi salah satu yang mampu bertahan. Permintaan tetap ada, bahkan ada klien kami yang justru mengalami peningkatan hingga 150 persen saat pandemi,” katanya.
Data yang dihimpun dari asosiasi menunjukkan Bandung memiliki sekitar 700 kafe besar serta 2.000 hingga 2.700 kafe skala menengah. Angka tersebut menggambarkan besarnya potensi pasar sekaligus kebutuhan dukungan teknologi, manajemen, serta akses pasar yang lebih luas bagi pelaku usaha.
“Kuliner itu tidak akan pernah mati. Ini bisa menjadi roda pertumbuhan ekonomi baru, terutama bagi daerah,” tambah Hizkia.
Selain mempertemukan pelaku usaha dengan pemasok bahan dan peralatan, pameran ini juga menghadirkan solusi teknologi untuk mendukung operasional bisnis. Salah satu fokusnya adalah digitalisasi sistem pencatatan dan manajemen usaha. Menurut Hizkia, pelaku usaha kini membutuhkan sistem yang memungkinkan pemantauan bisnis secara real time, terutama bagi pemilik yang mengelola lebih dari satu outlet.
“Pemilik usaha tidak ingin lagi mencatat secara manual. Mereka ingin bisa memantau penjualan dan stok kapan pun, terutama jika memiliki beberapa outlet. Teknologi software yang kami hadirkan di pameran ini menjadi solusi bagi kebutuhan tersebut,” ujarnya.
Di sisi lain, akses ke pasar global juga menjadi perhatian. Kehadiran platform perdagangan B2B internasional dalam kegiatan ini disebut membuka peluang bagi pelaku UMKM yang ingin memperluas jangkauan pasar. Produk lokal yang telah siap ekspor diharapkan dapat memanfaatkan platform tersebut sebagai penghubung menuju pasar internasional.
Antusiasme pelaku usaha tercermin dari jumlah pengunjung yang meningkat. Tahun lalu, pameran serupa menarik sekitar 47 ribu pengunjung. Tahun ini, penyelenggara menargetkan sekitar 50 ribu pengunjung. “Trend pengunjung tahun ini cukup baik. Hari pertama saja sudah sangat ramai. Kami optimistis target 50 ribu pengunjung dapat tercapai,” kata Hizkia.
Ia juga menyebut perubahan konsep penyelenggaraan yang lebih fokus pada hari kerja mendapat respons positif. Dengan membatasi hari pertama untuk pelaku bisnis, interaksi antara peserta pameran dan pengunjung dinilai lebih efektif. “Exhibitor merasa puas karena pengunjung yang datang memang pelaku usaha yang mencari solusi dan peluang bisnis,” ujarnya.
Ke depan, Hizkia berharap model kegiatan yang mendekatkan akses teknologi, jaringan, dan pasar kepada pelaku usaha daerah dapat terus berkembang. Menurutnya, penguatan UMKM di daerah bukan hanya soal pemerataan ekonomi, tetapi juga upaya menjaga keberlanjutan pertumbuhan di tengah dinamika ekonomi global. “Kami ingin pelaku usaha di daerah tidak tertinggal. Dengan dukungan yang tepat, mereka bisa naik kelas dan menjadi motor ekonomi yang kuat,” tutupnya.

